BPMA dan PGE Mulai Lakukan Pengeboran Sumur Rayeu D-1 di Baktiya

Sumur Rayeu
BPMA bersama PT PGE resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. [Foto: BPMA/Rahasiaumum.com]

Lhoksukon. RU – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Pema Global Energi (PGE) resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

Pengeboran ini dilakukan untuk membuktikan potensi hidrokarbon sekaligus membuka peluang penemuan cadangan minyak dan gas bumi baru di Wilayah Kerja (WK) B, Aceh.

Kepala BPMA, Mawardi Nur, mengatakan pengeboran Rayeu D-1 merupakan langkah penting dalam mendorong eksplorasi dan pengembangan potensi migas di Aceh. Menurutnya, upaya menemukan cadangan baru diperlukan untuk menjaga keberlanjutan produksi migas pada masa mendatang.

“Pengeboran Rayeu D-1 merupakan bagian dari upaya kita untuk terus membuka peluang penemuan cadangan migas baru di Aceh. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan hasil yang positif sehingga mampu menambah potensi cadangan minyak dan gas bumi, sekaligus memperkuat keberlanjutan operasi hulu migas di Wilayah Kerja Blok B,” ujar Mawardi, Minggu (01/11/2026).

Sumur Rayeu D-1 dibor secara berarah (directional drilling) menggunakan rig BMA-16 berkapasitas 1.500 HP yang dioperasikan PT Bina Mitra Artha (BMA).

Pengeboran ditargetkan mencapai kedalaman akhir 6.953 kaki terukur berarah (feet measured depth/feetMD) atau 6.894 kaki kedalaman vertikal sebenarnya (true vertical depth/TVD).

Pengeboran ini bertujuan mengonfirmasi hasil survei seismik 3D yang telah dilakukan sebelumnya sekaligus membuktikan potensi hidrokarbon pada prospek Rayeu D.

Target utama dan sekunder berada pada reservoir batupasir Formasi Lower Seurula, khususnya lapisan LS-1 dan LS-2.

Prospek pengeboran tersebut disusun berdasarkan studi Geology, Geophysics, and Reservoir (GGR) yang dilakukan PGE bersama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dari pengeboran ini, PGE menargetkan potensi produksi awal sebesar 300 barel kondensat per hari (barrels of condensate per day/BCPD) dan gas sebesar 11,4 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).

Pengembangan struktur Lower Seurula diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan produksi hidrokarbon di Blok B. Namun, target tersebut masih bergantung pada hasil pengeboran dan evaluasi teknis.

Berdasarkan persetujuan Authorization for Expenditure (AFE) sebesar USD 17,5 juta, pengeboran Rayeu D-1 diperkirakan membutuhkan waktu 50 hari operasi rig. Total durasi kegiatan hingga penyelesaian sumur mencapai 74 hari.

Jangka waktu tersebut mencakup seluruh tahapan pekerjaan, mulai dari pengeboran, komplesi, pembersihan sumur (clean-up well), hingga pengujian sumur (well testing).

Keberhasilan pengeboran Rayeu D-1 diharapkan dapat membuka peluang penambahan cadangan dan produksi migas, sekaligus memberikan kontribusi bagi penerimaan daerah, perekonomian masyarakat, serta mendukung ketahanan energi nasional.(TH05)

Di Balik Batu Bata, Peluh Aisyah dan Parman Menyambung Hidup

Banda Aceh. RU – Gerimis membasahi tumpukan tanah liat dan batu bata di sebuah tempat...

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...