Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

Tampak suasana pertemuan kelompok Nipah Aksiri saat membahas pengembangan komoditas nilam. (insert) Ridwan MD ketua kelompok Nipah Aksiri saat menyemai bibit pohon nilam. Selasa 21 Juli 2026 [Dok. rahasiaumum.com/*]

Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru

PULAU ACEH – Di tengah hamparan lahan masyarakat di kawasan Nipah, Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar, sebuah upaya membangkitkan kembali kejayaan tanaman nilam mulai dirintis.

Bagi sebagian warga, nilam bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan bagian dari sejarah dan identitas pulau yang pernah dikenal sebagai penghasil tanaman rempah.

Kelompok Nipah Atsiri menjadi salah satu penggerak yang mencoba membawa kembali tanaman bernilai ekonomi tinggi tersebut.

Dengan semangat kolaborasi, mereka mulai menyiapkan lahan, pembibitan, hingga membangun jaringan pengolahan dan pemasaran agar nilam tidak berhenti hanya sebagai bahan baku.

“Pulau ini punya sejarah. Dulu masyarakat bertani nilam. Jadi ini bukan sesuatu yang baru, tetapi bagaimana kita membangkitkan kembali semangat masyarakat,” ujar salah satu pengurus kelompok, Zakiah.

Menurutnya, pemilihan nilam sebagai komoditas utama didasarkan pada beberapa pertimbangan.

Selain memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibanding sejumlah komoditas lain, nilam juga relatif lebih tahan terhadap gangguan hama yang selama ini menjadi persoalan petani.

“Nilam tidak terlalu terganggu oleh hama, dan nilai ekonominya juga lebih menjanjikan,” kata dia.

Selain itu, nilam Pulau Aceh disebut memiliki kualitas yang baik.

Kondisi tanah dan lingkungan pulau menjadi salah satu faktor yang diyakini mendukung kualitas tanaman tersebut.

Keluar dari Bayang-bayang Komoditas Lama

Pulau Aceh selama ini lebih dikenal dengan komoditas seperti kelapa dan cengkeh.

Namun, pengembangan komoditas tersebut menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi nilai tambah dan pengolahan.

Cengkeh, misalnya, masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah.

Padahal, pengolahan menjadi produk turunan seperti minyak atsiri berpotensi memberikan nilai ekonomi lebih besar.

“Kalau cengkeh, petani masih banyak menjual bahan bakunya. Sementara nilam punya peluang pasar minyak atsiri yang cukup besar,” ujar Zakiah.

Permintaan minyak nilam di pasar global menjadi salah satu alasan kelompok tersebut optimistis.

Kebutuhan dunia terhadap minyak nilam disebut masih belum sepenuhnya terpenuhi.

Memastikan Legalitas Lahan

Dalam pengembangan usaha berbasis pertanian, persoalan legalitas lahan menjadi salah satu perhatian utama.

Kelompok Nipah Aksiri memastikan lokasi pengembangan awal berada di luar kawasan hutan.

Berdasarkan hasil verifikasi lapangan bersama pihak terkait, lahan seluas lima hektare yang menjadi lokasi awal pengembangan berada di Area Penggunaan Lain (APL).

“Yang lima hektare awal ini berada di luar kawasan. Karena berada di APL, secara prinsip aman untuk pengembangan kelompok tani,” ujar Ridwan MD selaku ketua kelompok Nipah Atsiri.

Verifikasi tersebut menjadi penting karena ke depan kelompok berencana mengembangkan skema perhutanan sosial apabila diperlukan.

Dalam regulasi perhutanan sosial dikenal mekanisme penyelesaian bagi aktivitas yang telah terlanjur berada dalam kawasan tertentu, dengan tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.

Tidak Sekadar Menanam

Kelompok Nipah Atsiri tidak ingin berhenti pada tahap budidaya.

Mereka mulai membangun konsep rantai usaha dari hulu hingga hilir.

Rencana pengembangan dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan mitra yang akan membantu penyerapan hasil produksi, membangun rantai pasok, serta mendukung pola kontrak pertanian.

Selain itu, akses pembiayaan juga disiapkan melalui skema kredit usaha rakyat dengan pola pembayaran setelah panen atau yarnen.

Dengan skema tersebut, petani tidak langsung terbebani pembayaran sebelum memperoleh hasil produksi.

“Pendanaan ini bukan untuk menjadi beban petani. Ini harus membantu usaha mereka berkembang,” kata Zakiah.

Dalam proses budidaya, kelompok juga menggandeng perguruan tinggi untuk pendampingan teknis, mulai dari pembibitan hingga pengelolaan tanaman.

Lima Hektare Awal, 12.000 Bibit Disiapkan

Meski berbagai rencana masih dalam tahap pengembangan, kelompok memilih tetap bergerak.

Untuk tahap awal, mereka menggunakan dana mandiri untuk membuka lahan dan menyiapkan tanaman.

Dari target lima hektare, sekitar satu hektare telah mulai dipersiapkan.

Sebanyak 12.000 bibit nilam juga telah tersedia dan siap ditanam.

“Ini bukti keseriusan kami. Kami tidak menunggu semuanya sempurna untuk mulai bergerak,” ujar Zakiah.

Bibit tersebut berasal dari pembelian dan sebagian dari tanaman induk yang telah dipertahankan masyarakat.

Ke depan, kelompok berharap dapat melakukan pembibitan sendiri sehingga tidak bergantung pada sumber bibit luar.

Menyalakan Lilin Harapan

Perjalanan Nipah Atsiri masih panjang.

Tantangan pendanaan, penguatan kelembagaan, hingga pembangunan pasar menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan bersama.

Namun, bagi kelompok ini, langkah kecil yang dimulai hari ini adalah bagian dari proses membangun masa depan ekonomi masyarakat Pulau Aceh.

“Kita tidak melihat hasilnya seperti apa hari ini. Yang penting proses ini berjalan dengan baik. Kalau prosesnya baik, hasil tidak akan berbohong,” ujar Zakiah.

Ia menyebut semangat kelompok bukan hanya untuk membangun usaha, tetapi juga menjadi contoh bahwa masyarakat pulau mampu menciptakan peluang dari potensi sendiri.

“Tidak ada yang mustahil ketika kita mau. Kita ingin menjadi lilin harapan bagi banyak orang,” katanya.

Dari tanah Pulau Aceh, aroma nilam yang pernah berjaya kini kembali dicoba untuk dihidupkan.

Bukan hanya sebagai tanaman, tetapi sebagai simbol kebangkitan ekonomi masyarakat.(IA02)

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...