Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya.
Bukan dengan ramuan rumit, melainkan menggunakan beberapa butir nasi yang jatuh ke lantai saat makan.
Tradisi itu dikenal dengan istilah Ketegor atau Ketegukh, sebuah pengetahuan pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dikenal dalam kehidupan masyarakat Tamiang hingga kini.
Tokoh Budaya Melayu Tamiang yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang, Mustafa Kamal, S.Pd., M.M., menjelaskan bahwa ketegor atau ketegukh merupakan bagian dari khazanah pengetahuan tradisional masyarakat setempat.
Mengenal istilah “Ketegor atau Ketegukh” ini disampaikan tokoh Budaya Melayu Tamiang Mustafa Kamal, S.Pd, MM kepada rahasiaumum.com, Sabtu (12/09/2026).”
Dalam penjelasan Mustafa, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang, umumnya anak-anak, mengalami sakit perut secara tiba-tiba.
“Dalam khazanah pengetahuan tradisional masyarakat Tamiang, terdapat istilah ketegor atau ketegukh. Kata ini dipakai untuk menggambarkan kondisi ketika seorang anak, pada umumnya anak-anak, tiba-tiba menderita sakit perut yang datang mendadak,” ungkap Mustafa.
Menurut dia, masyarakat setempat mengenal kondisi tersebut sebagai sakit yang terkadang tidak kunjung membaik meskipun anak telah diberikan berbagai jenis obat.
Dalam pandangan budaya Tamiang, ketegor atau ketegukh tidak hanya dimaknai sebagai gangguan kesehatan fisik, tetapi juga memiliki penjelasan dan tata cara penanganan yang berkembang di tengah masyarakat.
Tanda-tanda yang Dikenal Masyarakat
Ketegor atau ketegukh biasanya ditandai dengan sakit perut yang muncul secara mendadak.
Kondisi tersebut lebih sering dikaitkan dengan anak-anak, dengan rasa sakit yang cukup kuat hingga membuat mereka gelisah atau menangis.
Mustafa mengatakan, berdasarkan pengalaman yang diketahuinya, rasa sakit tersebut terkadang tidak segera reda meskipun telah diberikan obat.
Istilah ketegor atau ketegukh sendiri telah lama menjadi bagian dari kosakata dan pengetahuan lokal masyarakat Tamiang.
Menggunakan Butiran Nasi yang Jatuh
Yang menarik, bahan dalam praktik pengobatan tradisional tersebut sangat sederhana.
Masyarakat menggunakan butiran nasi yang jatuh ke lantai setelah kegiatan makan.
Nasi yang digunakan bukan sengaja diambil dari tempat penyimpanan makanan.
Butiran tersebut harus berasal dari nasi yang jatuh ke lantai ketika seseorang sedang makan.
Ketentuan itu menjadi bagian dari kepercayaan yang melekat dalam praktik ketegor atau ketegukh.
Butiran nasi kemudian diambil dan diusapkan pada bagian pusar anak yang mengalami sakit perut.
Saat mengusapkan nasi, orang yang merawat anak mengucapkan kalimat yang diwariskan secara turun-temurun:
“Hapo pe yang negokh ne, udah ke baek agi le.”
Ungkapan tersebut secara makna berarti, “Siapa pun yang mengganggu ini, sudah sembuhlah kembali.”
Ucapan itu menjadi bagian dari proses pengobatan, yang menyatukan tindakan fisik dengan doa serta harapan agar anak segera pulih.
Bukan Sekadar Pengobatan
Bagi masyarakat yang masih mempraktikkannya, ketegor atau ketegukh tidak berhenti pada tindakan mengusapkan nasi ke pusar.
Penggunaan bahan yang berasal dari lingkungan sehari-hari mencerminkan keyakinan tradisional bahwa sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya penyembuhan.
Sementara pengusapan pada pusar menunjukkan pemahaman masyarakat mengenai bagian tubuh yang dianggap berkaitan dengan kondisi perut.
“Sementara ucapan yang menyertai tindakan itu mengandung unsur doa, sugesti, keyakinan, dan harapan yang tulus,” ucap Mustafa.
Pengetahuan tersebut diwariskan terutama melalui jalur keluarga dan lingkungan masyarakat.
Orang tua, kakek-nenek, atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan mengenai praktik tersebut menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Karena diwariskan secara lisan, pelafalan maupun tata cara yang dikenal masyarakat di satu kampung dapat berbeda dengan daerah lainnya.
Mustafa menilai, perbedaan penyebutan ketegor dan ketegukh sebaiknya dipandang sebagai variasi pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.
Keduanya belum tentu merupakan dua praktik berbeda sebelum ada penelitian lebih mendalam.
Warisan yang Perlu Didokumentasikan
Di balik praktik sederhana tersebut tersimpan berbagai unsur kebudayaan masyarakat Melayu Tamiang.
Ada bahasa lokal, pengetahuan mengenai tubuh, pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar, ungkapan doa, kasih sayang orang tua, hingga hubungan pengetahuan antargenerasi.
“Karena itu, praktik ini patut didokumentasikan dan dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat Tamiang, selama masih ada para pelaku dan pemilik pengetahuannya yang dapat mewariskannya,” terangnya.
Mustafa menegaskan, pengetahuan mengenai ketegor atau ketegukh tersebut tidak hanya berasal dari pengalaman pribadinya.
Ia juga memperolehnya dari warga Kecamatan Bandar Pusaka, yakni Abdul Kahar dan Syaripudin.
Di tengah perubahan zaman, pengetahuan semacam ini menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Pelestariannya bukan semata-mata untuk mempertahankan sebuah cara pengobatan tradisional, melainkan juga untuk menjaga cerita, bahasa, keyakinan, dan nilai-nilai yang menyertainya agar tidak terputus dari generasi berikutnya.(S04)













