Subulussalam. RU – Perjuangan Sultan Daulat Sambo dalam melawan kolonialisme Belanda di Tanah Singkil kembali diangkat dalam seminar sejarah yang digelar di Anjungan Rumah Harisman Sambo, S.P., Rabu (14/10/2026)
Kegiatan ini menjadi upaya menggali sejarah lokal sekaligus mendorong pelestariannya bagi generasi mendatang.
Seminar tersebut menghadirkan H. Khalidin Umar Barat, S.PdI., M.A.P., Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orda Kota Subulussalam, sebagai pemateri.
Dalam pemaparannya, Khalidin menekankan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas, martabat, dan jati diri masyarakat.
Karena itu, perjuangan para pendahulu perlu diteliti dan didokumentasikan agar tidak hilang dari ingatan generasi penerus.
Sultan Daulat Sambo dikenal sebagai Raja Kerajaan Batu-Batu yang berjuang melawan penjajahan Belanda di kawasan Tanah Singkil.
Keberanian dan keteguhannya dalam mempertahankan wilayah serta martabat masyarakat membuatnya dikenang dengan julukan Singa Tanoh Singkil.
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan perlawanan Sultan Daulat Sambo berlangsung pada awal abad ke-20.
Penelitian sejarah oleh Universitas Negeri Medan mengkaji perlawanan tersebut pada periode 1901–1912, termasuk strategi pertahanan yang digunakan untuk menghadapi kekuatan kolonial.
Menurut Khalidin, keterbatasan dokumentasi tertulis menjadi salah satu tantangan dalam pelestarian sejarah lokal.
Sejumlah kisah perjuangan tokoh daerah masih diwariskan melalui cerita lisan yang berisiko berubah atau hilang seiring waktu.
“Sejarah yang tidak ditulis akan mudah dilupakan. Karena itu, kita memiliki tanggung jawab untuk menggali, mendokumentasikan, dan mewariskan sejarah perjuangan para pendahulu kepada generasi muda,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam seminar tersebut.
Ia mendorong keterlibatan keluarga dan keturunan tokoh sejarah, tokoh adat, akademisi, pemerintah, serta masyarakat untuk menghimpun sumber sejarah yang masih tersedia.
Upaya itu dapat dilakukan melalui penelusuran arsip, pendokumentasian silsilah keluarga, pencatatan kesaksian para tetua, penelitian akademik, serta pemeliharaan makam dan situs bersejarah yang berkaitan dengan Sultan Daulat Sambo.
Khalidin juga mengingatkan pentingnya membedakan cerita turun-temurun dari fakta yang didukung dokumen dan penelitian.
Menurutnya, penghormatan terhadap tokoh sejarah akan semakin kuat apabila didasarkan pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menilai, nilai perjuangan Sultan Daulat Sambo tetap relevan bagi masyarakat saat ini, terutama semangat keberanian, keteguhan, integritas, dan pengabdian.
Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, pelestarian budaya, serta upaya memajukan daerah.
“Jangan sampai generasi mendatang lebih mengenal tokoh dari tempat yang jauh daripada tokoh yang telah meninggalkan jejak perjuangan di tanahnya sendiri,” menjadi pesan penting dalam upaya membangun kesadaran sejarah lokal.
Seminar tersebut diharapkan membuka ruang bagi penelitian lebih mendalam mengenai Sultan Daulat Sambo dan Kerajaan Batu-Batu.
Khalidin menegaskan, pelestarian sejarah tidak cukup dilakukan melalui seremoni, tetapi harus disertai langkah nyata untuk menulis, meneliti, merawat peninggalan, dan memperkenalkan tokoh-tokoh daerah kepada generasi muda.
Dengan demikian, julukan Singa Tanoh Singkil tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga identitas daerah dan mewariskan nilai perjuangan leluhur kepada generasi berikutnya.(MB07)













