Pedagang Pasar Al Mahirah Keluhkan Harga Cabai, Pemkot Diminta Bertindak

Tampak susasna pasar Al Mahirah, Banda Aceh pada pagi hari. Rabu 14 Oktober 2026 [Dok. rahasiaumum.com/RSR12]

Banda Aceh. RU – Harga cabai merah dan cabai rawit di Pasar Al Mahirah, Lamdingin, mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga bawang yang justru cenderung menurun.

Salah seorang pedagang, M. Daud, mengatakan harga cabai merah kini mencapai Rp 80.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit Rp 70.000 per kilogram.

“Harga naik bang, tapi daya beli dari masyarakat kurang karena harga bumbu dapur pun juga naik,” ungkap Daud saat dikonfirmasi rahasiaumum.com, Rabu (14/10/2026).

Menurut Daud, kenaikan harga tersebut diduga dipengaruhi oleh ulah tengkulak yang menetapkan harga tanpa pengawasan pemerintah.

Padahal, petani sedang memasuki masa panen secara bersamaan.

“Ulah dari tengkulak-tengkulak membuat kami tidak bisa berdagang, harga mahal padahal di petani sedang panen secara bersamaan,” tutur Daud.

Ia berharap Pemerintah Kota (Pemkot) dapat mengatasi persoalan tersebut agar masyarakat tidak semakin terbebani dan pedagang tetap bisa berjualan.

“Kami harap Pemkot bisa mengatasi hal tersebut bang, kasian masyarakat dan juga pedagang lain tidak bisa jualan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM), Bukhari Sufi, mengatakan kenaikan harga bahan pokok dipengaruhi tingginya permintaan dan terbatasnya pasokan dari petani.

Selain itu, permintaan meningkat selama bulan Maulid serta dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Permintaan yang besar dan juga pasok barang yang kurang dari petani membuat naiknya bahan pokok ditambah lagi sedang masa maulid dan permintaan dari MBG cukup tinggi,” ujar Bukhari.

Terkait dugaan permainan harga oleh tengkulak, Bukhari mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi apabila menerima laporan mengenai praktik tersebut.

“Jika ada laporan kita akan konfirmasi kepada kepala pasar disana, sehingga tidak terjadi hal demikian,” tutup Bukhari.(RSR12)

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...