Opini oleh: Aditya Fenra
Banjir bandang yang berulang di berbagai daerah di Indonesia tidak dapat lagi dipandang semata-mata sebagai fenomena alam. Curah hujan dengan intensitas tinggi memang menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak yang ditimbulkan sering kali berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan yang telah berlangsung dalam waktu lama. Dalam banyak kasus, hutan yang kehilangan fungsi ekologis akibat penebangan liar membuat kawasan yang sebelumnya mampu menahan dan menyerap air berubah menjadi wilayah yang rentan terhadap bencana.
Hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Pepohonan berfungsi menyerap air hujan, memperkuat struktur tanah, serta menjaga kestabilan daerah aliran sungai. Ketika tutupan hutan berkurang secara signifikan, kemampuan tanah untuk menyimpan air ikut menurun. Air hujan kemudian mengalir lebih cepat ke sungai, meningkatkan risiko luapan dalam waktu singkat. Pada saat yang sama, hilangnya akar-akar pohon yang selama ini menahan tanah memperbesar potensi erosi dan longsor.
Karena itu, banjir bandang sesungguhnya merupakan peringatan bahwa daya dukung lingkungan telah melemah. Alam merespons tekanan yang terus-menerus diberikan manusia melalui eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali.
Salah satu faktor yang mempercepat kerusakan hutan adalah praktik penebangan liar. Aktivitas ini umumnya didorong oleh kepentingan ekonomi jangka pendek karena kayu memiliki nilai jual yang tinggi. Dalam sejumlah kasus, penebangan tidak dilakukan secara sporadis, melainkan melibatkan jaringan yang terorganisasi sehingga kerusakan berlangsung dalam skala luas. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem, tetapi juga oleh masyarakat yang kehilangan perlindungan alam dari ancaman banjir, kekeringan, dan penurunan kualitas lingkungan hidup.
Meski demikian, persoalan penebangan liar tidak dapat dilihat secara hitam-putih. Di banyak daerah, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan masih menghadapi keterbatasan ekonomi dan minimnya lapangan pekerjaan. Dalam kondisi demikian, hutan sering dipandang sebagai sumber penghasilan yang paling mudah diakses. Realitas ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan lemahnya kesadaran ekologis, tetapi juga berhubungan dengan persoalan kesejahteraan yang belum terselesaikan.
Di sinilah peran negara menjadi sangat penting. Pemerintah tidak cukup hanya mengeluarkan aturan perlindungan hutan, tetapi juga harus memastikan aturan tersebut dijalankan secara konsisten. Pengawasan yang lemah, penegakan hukum yang tidak tegas, serta praktik penyalahgunaan kewenangan dapat membuka ruang bagi terus berlangsungnya eksploitasi sumber daya alam. Ketika pelanggaran tidak ditindak secara serius, kerusakan lingkungan akan terus berulang dengan biaya sosial yang semakin besar.
Pada saat yang sama, upaya pelestarian lingkungan perlu berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Larangan penebangan liar tidak akan efektif apabila warga di sekitar hutan tetap hidup dalam kemiskinan tanpa alternatif mata pencaharian yang memadai. Karena itu, kebijakan lingkungan harus disertai program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan, seperti pengembangan sektor pertanian, pariwisata berbasis alam, usaha mikro, hingga kegiatan reboisasi yang melibatkan masyarakat setempat.
Banjir bandang memberikan pelajaran bahwa hubungan manusia dan alam bersifat timbal balik. Kerusakan yang dilakukan hari ini akan kembali dalam bentuk risiko yang harus ditanggung bersama di masa depan. Karena itu, pembangunan tidak boleh semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperhitungkan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi kehidupan.
Pada akhirnya, tidak ada satu pihak yang dapat sepenuhnya disalahkan maupun dibebaskan dari tanggung jawab. Penebangan liar menjadi penyebab langsung kerusakan hutan, pemerintah bertanggung jawab dalam pengawasan dan penegakan hukum, sementara persoalan kemiskinan menjadi faktor sosial yang ikut memengaruhi perilaku masyarakat. Penyelesaian masalah ini membutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan agar pembangunan dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan. Tanpa keseimbangan tersebut, banjir bandang akan terus menjadi pengingat mahal atas kerusakan lingkungan yang dibiarkan terjadi.
Penulis adalah salah satu wartawan rahasiaumum.com yang berdomisili di Kabupaten Aceh Tenggara. Email: [email protected]














