Banda Aceh. RU – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh Brigjen Pol. Dedy Tabrani mengajak insan pers memperkuat kolaborasi dalam memerangi peredaran gelap narkotika.
Sinergi media dan aparat dinilai penting untuk melindungi generasi muda sekaligus menjaga marwah Aceh.
Ajakan itu disampaikan Dedy dalam silaturahmi bersama wartawan media cetak dan elektronik di Banda Aceh, Rabu (28/10/2026).
Ia menyoroti peredaran ganja, sabu-sabu, dan penyalahgunaan obat-obatan tertentu yang masih menjadi persoalan serius di Aceh.
“Dulu Aceh sangat terkenal di mancanegara karena sejarah perjuangan dan ulama. Sekarang, Aceh juga dikenal dengan persoalan ganja, tramadol, hingga sabu-sabu. Ini sangat disayangkan, apalagi saya sendiri putra Aceh,” ujar Dedy.
Menurut dia, pemberantasan narkotika tidak bisa hanya mengandalkan BNN.
Pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh adat, masyarakat, dan media harus bergerak bersama.
Penguatan nilai agama, adat istiadat, dan peran keluarga juga diperlukan untuk mencegah generasi muda terjerat narkoba.
Dedy mengungkapkan, BNNP Aceh menghadapi keterbatasan anggaran sekitar Rp 18 miliar per tahun.
Dana tersebut harus mencakup belanja pegawai, gaji dan tunjangan, serta kegiatan operasional, termasuk kebutuhan transportasi, bahan bakar, peralatan, dan fasilitas lapangan.
Meski menghadapi keterbatasan, BNNP Aceh tetap berupaya mengoptimalkan pencegahan dan penindakan.
Dalam pemaparan capaian penanganan narkotika, disebutkan pengungkapan kasus dengan barang bukti sabu seberat 68 kilogram serta penanganan ladang ganja seluas 30 hektare.
BNNP Aceh juga berkoordinasi dengan TNI, Polri, Bea Cukai, dan instansi terkait untuk memutus mata rantai peredaran narkotika sesuai kewenangan masing-masing.
Dedy secara khusus meminta media menyampaikan informasi yang akurat mengenai bahaya narkotika, pengungkapan kasus, upaya pencegahan, dan layanan rehabilitasi.
“Wartawan adalah mitra dalam menjaga Aceh. Kami berharap media dapat memberikan informasi berdasarkan fakta, sehingga informasi yang diterima masyarakat benar-benar akurat dan utuh,” ujar Dedy.
Ia berharap komunikasi dengan media terus diperkuat agar edukasi bahaya narkoba menjangkau masyarakat lebih luas.
Menurut dia, menjaga marwah Aceh tidak cukup dengan mempertahankan warisan sejarah, tetapi juga memastikan generasi penerus tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan terbebas dari ancaman narkotika.(R10)













