Kutacane. RU – Hujan berintensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, sejak Senin malam hingga Rabu (28/10/2026) memicu banjir di 12 desa yang tersebar di lima kecamatan.
Banjir merendam permukiman warga hingga setinggi satu meter, merusak lahan pertanian, menjebol sejumlah tanggul sungai, serta menyebabkan sebuah jembatan gantung amblas.
Banjir juga menggenangi jalan nasional di Desa Kuning I, Kecamatan Bambel, akibat tersumbatnya aliran air di bawah jembatan.
Kondisi tersebut memicu kemacetan panjang bagi pengguna jalan.
Berdasarkan laporan sementara Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, banjir terjadi setelah debit air Sungai Lawe Alas, Lawe Kinga, Lawe Bulan, dan Lawe Kisam meningkat hingga meluap.
Sejumlah tanggul sungai terkikis dan jebol akibat derasnya arus.
“Air sungai meluap dan menggenangi permukiman warga dengan ketinggian diperkirakan mencapai 0,5 hingga 1 meter,” kata Kelaksa BPBD Mohd Asbi dikutip dari laporan Pusdalops-PB BPBD Aceh Tenggara.
Tanggul jebol dan lahan pertanian rusak
Kecamatan Bambel menjadi salah satu wilayah terdampak dengan tujuh desa, yakni Kuning I, Pinding, Pancar Iman, Bambel Gabungan, Terutung Seperai, Likat, dan Rikit.
Di Desa Kuta Lesung, tanggul Sungai Lawe Kinga jebol sehingga aliran air beralih ke permukiman Desa Pinding dan merusak lahan pertanian warga.
Kerusakan tanggul juga terjadi di sepanjang Sungai Lawe Kisam, tepatnya di Desa Bambel Gabungan dan Dusun Nasi, Desa Terutung Megara Lawe Pasaran.
Sementara itu, tanggul yang jebol di Desa Bunga Melur menyebabkan aliran air mengarah ke permukiman Desa Lawe Sagu Hulu dan Kandang Mbelang Mandiri.
Banjir turut melanda Desa Kumbang Jaya, Kecamatan Badar.
Di lokasi tersebut, jembatan gantung yang menghubungkan Kumbang Jaya dengan Gulo, dikenal sebagai Jembatan Perintis Garuda, amblas setelah tergerus arus Sungai Lawe Alas.
Di Kecamatan Lawe Sumur, banjir menggenangi Dusun Nasi, Desa Terutung Megara Lawe Pasaran.
Banjir juga terjadi di Desa Bunga Melur, Kecamatan Deleng Pokhkison.
Pendangkalan sungai memperparah banjir
BPBD Aceh Tenggara menyebutkan, tingginya debit air bukan satu-satunya faktor penyebab banjir.
Pendangkalan sungai akibat sedimentasi di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) turut menghambat aliran air.
Kondisi ini diperparah oleh tanggul yang tidak mampu menahan derasnya arus hingga terkikis dan jebol di sejumlah titik.
Untuk penanganan darurat, petugas gabungan mengerahkan alat berat dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), serta BPBD.
Alat berat dikerahkan ke jembatan di Desa Kuning I untuk mengeruk material yang menyumbat aliran sungai sekaligus melakukan normalisasi.
Sementara itu, Satgas PRR mengerahkan alat berat ke Desa Kuta Lesung untuk menangani tanggul yang jebol.
Penanganan juga dilakukan di Sungai Lawe Kisam, Desa Bunga Melur, dengan menutup bagian tanggul yang jebol dan membangun tanggul sementara menggunakan alat berat bantuan pihak swasta.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD masih mendata jumlah warga terdampak, kerusakan rumah, lahan pertanian, serta fasilitas umum.
Hingga Rabu malam, hujan masih berlangsung dan sejumlah rumah warga masih terendam.
Berdasarkan data sementara BPBD, belum ada laporan pengungsi maupun korban jiwa, sedangkan jumlah warga terdampak masih dalam pendataan.(AFW11)













