Lhokseumawe. RU – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang terus mematangkan rencana pengembangan layanan kapal penyeberangan bagi penumpang dan angkutan barang antara Aceh dan Malaysia.
Dalam beberapa hari terakhir, Tim ASDP bersama KJRI Penang melakukan peninjauan sejumlah fasilitas pelabuhan di Penang, mulai dari Dermaga Air Dalam Butterworth (DADB), Penang Sentral/Pangkalan Sultan Abdul Halim (PSAH), Pangkalan Raja Tun Uda (PRTU), hingga Swettenham Pier Cruise Terminal.
Pembahasan diarahkan pada peluang konektivitas RoRo antara Pelabuhan Krueng Geukeuh di Lhokseumawe dan Penang.
“Jika terealisasi, jalur tersebut dapat menjadi alternatif transportasi laut sekaligus memperkuat arus logistik dan mobilitas masyarakat antara Aceh dan Malaysia,”ujar pejabat KJRI Penang, dikutip dari Medsos @indonesiainpenang, Rabu (19/08/2026).
KJRI Penang menyebut pembahasan juga mencakup peluang memperkuat jaringan pelabuhan Sumatera-Penang. Salah satu konektivitas yang dijajaki ialah BNCT-Penang Port-Perlis Inland Port, selain peluang kerja sama antara sejumlah pelabuhan strategis Indonesia dan Malaysia.
Dari pihak Malaysia, Penang Port Sdn. Bhd. (PPSB) menyambut kunjungan ASDP dan KJRI Penang.
Dalam unggahan di Instagram resminya, Penang Port menyebut kunjungan tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman antara dua komunitas pelabuhan yang memiliki banyak kesamaan.
Penang Port juga menilai kunjungan ASDP mencerminkan adanya kesamaan prioritas dan potensi sinergi operasional antara kedua perusahaan sebagai sesama pengelola layanan ferry di kawasan.
Rencana konektivitas Lhokseumawe-Penang tidak hanya berkaitan dengan perjalanan penumpang. Layanan RoRo memungkinkan kendaraan dan muatan diangkut langsung menggunakan kapal, sehingga berpotensi mendukung pergerakan barang sekaligus memperluas pilihan jalur logistik Aceh menuju Malaysia.
Bagi Aceh, konektivitas langsung dengan Penang juga dapat membuka peluang lebih besar bagi perdagangan, pariwisata, mobilitas masyarakat, serta hubungan ekonomi lintas negara.
Meski demikian, pembahasan tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan pematangan rencana. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai waktu pengoperasian jalur maupun jadwal pelayaran.
ASDP menyatakan terus mendukung pengembangan jaringan transportasi laut yang terintegrasi dan efisien.
Konektivitas lintas negara diharapkan tidak hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan perdagangan dan aktivitas ekonomi di kawasan.
Jika terealisasi, jalur Lhokseumawe-Penang berpotensi menjadi salah satu rute laut baru yang memperkuat posisi Aceh sebagai pintu konektivitas Indonesia dengan kawasan utara Selat Malaka.(TH05)













