Tangerang. RU – Penguatan deteksi dini dan kolaborasi lintas sektor di pintu masuk negara dinilai berperan besar dalam menekan angka kesakitan serta kematian jemaah haji Indonesia.
Upaya tersebut kembali diterapkan saat pemulangan kelompok terbang (kloter) perdana Provinsi Banten melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (02/06/2026).
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus mengatakan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari skrining kesehatan yang telah dilakukan sejak fase keberangkatan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Menurut dia, kebijakan membatalkan keberangkatan calon jemaah yang tidak memenuhi syarat kesehatan memberikan dampak nyata terhadap kondisi jemaah selama musim haji.
“Jadi waktu sebelumnya saya ke Asrama Haji Pondok Gede saat pemberangkatan, saya cek ada 14 calon jemaah haji yang dibatalkan pemberangkatannya karena kondisi kesehatannya tidak baik. Buktinya, angka kesakitan dan angka meninggal otomatis turun jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Benny.
Ia menjelaskan, fase debarkasi menjadi tahapan penting karena seluruh jemaah menjalani pemantauan kesehatan untuk mendeteksi kemungkinan penyakit menular maupun gangguan kesehatan lain yang memerlukan penanganan lanjutan.
Di Bandara Soekarno-Hatta, petugas melakukan observasi visual serta pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermo scanner.
Jemaah yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan langsung diarahkan ke pos kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Begitu kelihatan jemaah yang sudah pulang ini ada suspek tidak sehat, langsung dilakukan cek kesehatan. Dalam kloter ini ada enam orang yang dicek kesehatannya, sekarang masih ada yang diobservasi karena kondisi fisik menurun akibat kelelahan hingga timbul sakit. Nah, ini bisa langsung dikontrol dari sini,” ujar Benny.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, menuturkan metode active case finding diterapkan kepada seluruh jemaah yang tiba melalui wilayah kerjanya.
Bandara Soekarno-Hatta melayani pemulangan jemaah dari Embarkasi Jakarta Pondok Gede, Embarkasi Banten, dan Embarkasi Jakarta-Bekasi.
“Pada saat jemaah haji lewat, petugas kami melakukan observasi visual untuk melihat ada tidaknya tanda dan gejala sakit seperti batuk, pilek, atau panas. Jika ditemukan gejala tersebut, jemaah akan dibawa ke pos kesehatan untuk registrasi, pemeriksaan tensi, asesmen dokter, hingga pemeriksaan laboratorium,” kata Naning.
Ia mengungkapkan, kondisi kegawatdaruratan yang paling sering ditemukan setelah kedatangan adalah serangan jantung dan sesak napas.
“Ada yang sudah ditangani dengan CPR di atas pesawat, ada yang baru turun langsung mengalami serangan jantung, atau penyakit kronis lainnya. Prinsip kami adalah memberikan pertolongan pertama dan langsung merujuk ke rumah sakit terdekat dari lokasi kegawatdaruratan,” ujarnya.
Untuk melayani sekitar 1.600 jemaah yang tiba, BBKK Soekarno-Hatta menyiagakan tenaga kesehatan selama 24 jam, mulai dari dokter spesialis kedokteran penerbangan, dokter umum, epidemiolog, entomolog, sanitarian, perawat, sopir ambulans, hingga personel pendukung lainnya.
Benny menegaskan, keberhasilan pengamanan kesehatan jemaah haji merupakan hasil kerja bersama berbagai instansi, termasuk AirNav, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, dan Angkasa Pura.
“Dukungan datang dari mana-mana. Ada teman-teman dari AirNav yang mengatur lalu lintas udara, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, hingga Angkasa Pura yang menyiapkan ruangan dan alat-alat dengan sangat bagus. Ambulans standby untuk kondisi darurat. Ini membuktikan sinergi lintas sektor berdampak pada penurunan kasus yang sangat drastis,” tutupnya.(*)














