Banda Aceh. RU – Tim inventor muda dari SMA Labschool Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil meraih Medali Emas (Gold Medal) pada ajang bergengsi World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Malaysia, pada 17–21 Mei 2026.
Penghargaan tersebut diraih melalui inovasi produk kesehatan bernama ‘Nilame Apothecary’, yakni salep berbasis nanoemulsi dengan bahan aktif minyak nilam Aceh untuk pengobatan luka diabetes.
Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala, Syaifullah Muhammad, mengatakan inovasi tersebut lahir dari penelitian ilmiah mendalam yang dilakukan selama tiga bulan di ARC-PUIPT Nilam Aceh USK.
“Produk ini memanfaatkan komponen aktif minyak nilam Aceh sebagai obat topikal untuk penyembuhan luka diabetes melalui teknologi nanoemulsi,” kata Syaifullah dikutip Sabtu (23/05/2026).
Tim peneliti muda yang terdiri atas Lubna Jannatun Adnin, Felisha Aisha Luthfia, Kanaya Sadira, Innaiya Alifa, Haura Athifah, Siti Alisa Mastura, dan Syahira Lathifa Azzahra tampil mempresentasikan riset mereka dalam Bahasa Inggris di hadapan dewan juri internasional.
Penelitian yang diusung berjudul “Nanoemulsion Ointment with Active Components of Aceh Patchouli Oil as a Diabetic Topical Wound Treatment.”
Dalam pemaparannya, penggunaan teknologi nanoemulsi membuat zat aktif minyak nilam lebih cepat terserap ke kulit sehingga mempercepat regenerasi jaringan luka dan merangsang pertumbuhan kolagen baru, karena minyak nilam mengandung senyawa utama Patchouli alcohol (patchoulol) yang bekerja sinergis dengan senyawa fitokimia lain seperti tanin, saponin, dan alfa bulnesene.
“Keunggulan inovasi ini dinilai memiliki kebaruan ilmu pengetahuan sekaligus menawarkan solusi di bidang kesehatan, sehingga mendapat penghargaan tertinggi Gold Medal untuk kategori Healthcare,” ujar Syaifullah.
Ajang WYIE 2026 sendiri diikuti lebih dari 2.000 peserta dari berbagai negara, termasuk Korea Selatan, China, Taiwan, Hong Kong, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
Keberhasilan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa komoditas lokal Aceh memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui riset dan teknologi modern.(TH05)














