Aceh Besar. RU – Kemampuan menulis berita harus diimbangi pemahaman terhadap etika dan aturan jurnalistik agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap akurat, berimbang, dan dapat dipercaya.
Hal tersebut menjadi salah satu materi utama dalam Pelatihan Jurnalistik untuk Generasi Kritis yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Aceh Besar bersama Pengurus Besar (PB) Ikatan Pemuda Aceh Besar (IPAR).
Kegiatan bertema “Mencetak Jurnalis Muda di Era Digital” berlangsung di Hotel Permata Hati, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Sabtu (07/11/2026), dengan menghadirkan mantan Ketua PWI Aceh, H. Tarmilin Usman, sebagai pemateri.
Pelatihan tersebut diikuti kader berbagai organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) dan paguyuban di Aceh Besar untuk meningkatkan kemampuan menulis serta literasi media.
Tarmilin mengatakan, generasi muda memiliki potensi menjadi jurnalis profesional dan berintegritas, asalkan konsisten mematuhi regulasi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
“Menjadi jurnalis itu sebetulnya sangat mudah untuk dijalani dengan benar, asalkan kita konsisten mengikuti aturan-aturan yang ada,” ujar Tarmilin.
Mantan Ketua PWI Aceh dua periode itu juga mengingatkan wartawan agar menjaga objektivitas dan independensi serta tidak mencampurkan opini pribadi dalam pemberitaan.
“Ketika menulis berita, tidak boleh ada unsur kebencian terhadap seseorang sehingga memicu niat buruk yang dituangkan ke dalam teks berita. Berita yang kita buat harus selalu berimbang dan didukung oleh sumber yang jelas serta dapat dibuktikan kebenarannya,” tegasnya.
Menurut Tarmilin, profesi wartawan tidak hanya membutuhkan kemampuan menulis, tetapi juga keberanian, komitmen, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Melalui pelatihan tersebut, SMSI Aceh Besar dan PB IPAR berharap lahir jurnalis muda yang profesional dan berintegritas serta mampu menghasilkan karya jurnalistik yang sehat, edukatif, dan tepercaya.(*)













