Kutacane. RU – Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, sejak Rabu, 28 Oktober 2026, berdampak pada 1.920 jiwa dari 532 keluarga di 18 desa yang tersebar di enam kecamatan.
Hingga Kamis (29/10/2026) sore, sejumlah permukiman masih terendam air setinggi 50 sentimeter hingga satu meter.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara Mohd. Asbi mengatakan, petugas masih mendata warga, lahan pertanian, dan fasilitas umum yang terdampak.
Meski belum ada laporan korban jiwa maupun warga mengungsi, banjir telah mengganggu aktivitas masyarakat dan merusak sejumlah infrastruktur.
Berdasarkan laporan sementara Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Aceh Tenggara, banjir mulai terjadi pada Rabu sekitar pukul 09.15 WIB.
Bencana tersebut dipicu hujan berintensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur sebagian besar wilayah Aceh Tenggara sejak Senin malam hingga Rabu dini hari.
Hujan berkepanjangan menyebabkan debit Sungai Lawe Alas, Lawe Kinga, Lawe Bulan, dan Lawe Kisam meningkat.
Kondisi diperparah oleh tanggul yang tergerus arus serta pendangkalan sungai akibat sedimentasi, sehingga air meluap ke permukiman dan lahan pertanian.
“Petugas TRC masih melakukan pendataan di lapangan terhadap permukiman, kerusakan lahan pertanian, dan fasilitas umum yang terdampak banjir,” demikian keterangan dalam laporan Kepala Pelaksana BPBD Mohd. Asbi.
Dampak banjir antara lain terjadi di Desa Kuning I, Kecamatan Bambel.
Penyumbatan aliran air di bawah jembatan menyebabkan air meluap ke jalan nasional dan permukiman, sekaligus memicu kemacetan panjang.
Di Desa Kuta Lesung, tanggul Sungai Lawe Kinga jebol sehingga air mengarah ke permukiman Desa Pinding dan merusak lahan pertanian.
Kerusakan tanggul juga dilaporkan di Sungai Lawe Kisam, tepatnya di Desa Bambel Gabungan, Dusun Nasi di Desa Terutung Megara Lawe Pasaran, serta Desa Bunga Melur.
Luapan dari Desa Bunga Melur turut mengarah ke permukiman Desa Lawe Sagu Hulu dan Kandang Mbelang Mandiri.
Banjir juga menyebabkan Jembatan Gantung Kumbang Jaya-Gulo atau Jembatan Perintis Garuda amblas setelah tergerus arus Sungai Lawe Alas.
Fasilitas belajar Pondok Pesantren Nurul Islam di Desa Pinding turut terendam.
Sementara itu, pedagang Pasar Tradisional Kuning terpaksa memindahkan lokasi berjualan sekitar 500 meter ke kawasan Simpang Pulo Kedondong-Pinding.
Berdasarkan data sementara BPBD, enam kecamatan terdampak meliputi Bambel, Lawe Bulan, Deleng Pokhkison, Badar, Lawe Sumur, dan Lawe Sigala-gala.
Di Kecamatan Bambel, banjir melanda delapan desa, yakni Kuning I, Pinding, Pancar Iman, Bambel Gabungan, Terutung Seperai, Likat, Rikit, dan Kuta Buluh.
Di Kecamatan Lawe Bulan, banjir merendam Desa Lawe Sagu Hulu dan Kandang Mbelang Mandiri.
Desa Bunga Melur terdampak di Kecamatan Deleng Pokhkison, sedangkan Desa Kumbang Jaya terdampak di Kecamatan Badar.
Di Kecamatan Lawe Sumur, banjir melanda Dusun Nasi, Desa Terutung Megara Lawe Pasaran.
Adapun di Kecamatan Lawe Sigala-gala, banjir berdampak pada Desa Mulia Damai, Suka Damai, dan Gelah Musara.
Untuk penanganan darurat, BPBD mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) guna melakukan pendataan dan kajian cepat.
Sejumlah alat berat dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), serta BPBD dikerahkan ke jembatan Desa Kuning I untuk mengeruk material penyumbat aliran air sekaligus melakukan normalisasi.
Alat berat Satgas PRR juga diturunkan ke Desa Kuta Lesung untuk menutup tanggul yang jebol.
Sementara itu, tanggul jebol di Desa Bunga Melur ditangani menggunakan alat berat bantuan pihak swasta dengan membangun tanggul sementara.
BPBD turut mendirikan tenda posko pengungsi di Desa Kuning I, Kecamatan Bambel.
Petugas TRC bersama Satpol PP juga mengawal warga yang melintasi jembatan penyeberangan darurat di Desa Mbarung.
Hingga Kamis sore, jalan nasional di Desa Kuning I dan sejumlah rumah warga masih terendam.
Petugas terus memantau kondisi lapangan, melakukan penanganan darurat, dan mendata dampak banjir.(AFW11)













