Blangpidie. RU – Nasib pilu dialami Salakun (15), seorang anak yatim asal Gampong Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Remaja ini hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur selama enam bulan terakhir akibat menderita infeksi jantung dan memerlukan rujukan kontrol berkala ke RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Keterbatasan finansial menjadi ganjalan utama keluarga kurang mampu ini untuk melanjutkan pengobatan medis.
Ibunya, Nurhayati, terpaksa berhenti bekerja total demi mencurahkan seluruh waktunya untuk merawat sang buah hati.
“Sudah sekitar enam bulan anak saya terbaring lemas. Sejak dia sakit, saya sudah lama tidak bekerja,” kata Nurhayati, Rabu (16/09/2026).
Guna menyambung hidup sehari-hari, mereka sepenuhnya menggantungkan diri pada kepedulian kerabat serta uluran tangan tetangga sekitar.
Dokter yang menangani Salakun menginstruksikan agar pasien menjalani pemeriksaan medis secara berkala di rumah sakit rujukan provinsi di Banda Aceh. Langkah penanganan rujukan ini teramat penting demi memantau perkembangan organ vitalnya.
“Kontrol tersebut penting untuk memantau kondisi kesehatan dan mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan anak saya,” ucap Nurhayati.
Jarak tempuh yang jauh menuju ibu kota provinsi menyedot biaya transportasi maupun operasional harian yang tak sedikit.
Faktor inilah yang membuat rencana pengobatan Salakun menjadi mangkrak.
“Kata dokter harus rutin kontrol ke Rumah Sakit Zainal Abidin di Banda Aceh. Tapi kami terkendala biaya untuk membawa Salakun berobat ke sana,” tutur Nurhayati.
Keluarga berpenghasilan rendah ini sangat mengharapkan perhatian serta bantuan dari Pemerintah Kabupaten Abdya maupun para dermawan agar Salakun dapat terus berobat sesuai saran medis hingga sembuh.(T08)













