Opini  

Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian

Ilustrasi. Senin 17 Agustus 2026 [Dok. Fajar Darwis/rahasiaumum.com]

Oleh: Fajar Darwis TU

Setelah perdamaian tercapai, pertanyaan paling penting bukan lagi siapa yang menang dan siapa yang kalah. Pertanyaannya adalah: apa yang akan kita bangun setelah perdamaian?

Pertanyaan itu terasa semakin penting bagi Aceh hari ini.

Aceh pernah melewati masa konflik yang panjang. Bagi banyak orang, konflik bukan sekadar catatan sejarah. Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, ada yang kehilangan harta, masa muda, bahkan sebagian hidupnya. Ada pula trauma yang mungkin belum sepenuhnya sembuh hingga hari ini.

Karena itu, perdamaian merupakan titik penting yang patut dihargai. Setelah konflik berakhir, orang-orang yang sebelumnya berhadapan dapat memasuki ruang politik dan pemerintahan. Masyarakat memperoleh kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Aceh mendapatkan ruang yang lebih luas untuk menentukan arah masa depannya.

Namun, perdamaian tidak seharusnya menjadi garis akhir.

Ia mestinya menjadi titik awal.

Dari Mengakhiri Konflik ke Membangun Masa Depan

Generasi pertama perdamaian adalah mereka yang mengalami konflik dan ikut memperjuangkan berakhirnya pertikaian. Sejarah mereka penting. Pengorbanan mereka tidak boleh dihapus dari ingatan.

Akan tetapi, generasi berikutnya menghadapi persoalan yang berbeda.

Mereka tidak mungkin terus-menerus hidup dalam pertanyaan tentang siapa yang paling berjasa, siapa yang menang, atau siapa yang kalah. Mereka membutuhkan pertanyaan baru yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Apa yang bisa dibangun setelah perdamaian?

Petani membutuhkan pasar. Nelayan membutuhkan industri. Anak muda membutuhkan pekerjaan. Pengusaha membutuhkan kesempatan. Keluarga membutuhkan masa depan yang lebih baik.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan perdamaian semestinya tidak berhenti pada ketiadaan konflik. Perdamaian juga harus mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Di sinilah gagasan tentang generasi kedua perdamaian Aceh menjadi relevan.

Jika generasi pertama berjuang mengakhiri konflik, generasi kedua perlu berjuang membangun kemajuan.

Medannya bukan lagi senjata, melainkan pendidikan, teknologi, ekonomi, dan inovasi.

Mengubah Kekayaan Menjadi Nilai Tambah

Aceh sebenarnya memiliki modal yang besar.

Ada laut yang luas, pertanian, perkebunan, kopi, hutan, pariwisata, budaya, dan sejarah. Letaknya pun strategis, di ujung barat Indonesia dan berdekatan dengan jalur perdagangan internasional.

Persoalannya bukan semata-mata apakah Aceh memiliki sumber daya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sumber daya tersebut mampu diubah menjadi nilai tambah bagi masyarakat Aceh.

Ambil contoh kopi.

Kopi Aceh telah dikenal luas. Namun, jangan sampai Aceh hanya menjadi tempat menanam dan memanen kopi, sementara proses pengolahan, pemasaran, dan keuntungan terbesar berlangsung di luar Aceh.

Hal serupa berlaku pada hasil pertanian dan perikanan. Menjual komoditas dalam bentuk bahan mentah tentu berbeda nilainya dengan mengolahnya menjadi produk jadi, membangun merek, menciptakan jaringan distribusi, dan memasarkannya ke pasar nasional maupun internasional.

Karena itu, pembicaraan tentang masa depan ekonomi Aceh seharusnya tidak berhenti pada produksi. Kita perlu berbicara tentang industrialisasi, hilirisasi, keterampilan, teknologi, dan akses pasar.

Aceh perlu lebih banyak perusahaan yang tumbuh dari kekayaan daerahnya sendiri.

Laut yang Belum Sepenuhnya Menjadi Kekuatan

Hal yang sama dapat dilihat dari laut.

Kita sering menyebut laut sebagai kekayaan Aceh. Tetapi kekayaan baru memiliki arti ekonomi apabila mampu menciptakan kesejahteraan.

Perikanan, pengolahan hasil laut, pelabuhan, perdagangan, logistik, dan wisata bahari dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih besar.

Aceh tidak cukup hanya menjadi daerah yang kebetulan berada dekat jalur perdagangan.

Kalau letaknya strategis, mengapa tidak berusaha menjadi bagian penting dari jalur tersebut?

Pertanyaan ini membawa kita pada cara pandang yang lebih besar. Infrastruktur bukan sekadar proyek fisik. Pelabuhan bukan hanya tempat kapal datang dan pergi. Jalan bukan sekadar penghubung antardaerah.

Semua itu harus menjadi bagian dari ekosistem yang memungkinkan barang bergerak, usaha tumbuh, investasi datang, dan masyarakat memperoleh manfaat.

Pariwisata Jangan Sekadar Menjual Pemandangan

Potensi serupa terdapat dalam pariwisata.

Aceh memiliki laut, pulau, gunung, kopi, kuliner, sejarah, budaya, dan berbagai kisah masyarakat yang menarik. Tetapi pariwisata tidak cukup hanya dijual dengan kalimat bahwa Aceh memiliki pemandangan yang indah.

Yang lebih penting adalah bagaimana semua potensi itu dikemas menjadi pengalaman.

Wisatawan idealnya tidak hanya datang untuk mengambil foto, lalu pulang. Mereka tinggal lebih lama, menginap di penginapan lokal, makan di warung masyarakat, membeli produk UMKM, menikmati kopi, mengunjungi situs sejarah, dan membawa pulang produk Aceh.

Dengan cara itu, pariwisata tidak berhenti sebagai sektor yang mendatangkan pengunjung. Ia menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.

Pendidikan sebagai Medan Perjuangan Baru

Namun, seluruh gagasan tersebut pada akhirnya kembali kepada manusia.

Aceh tidak akan membangun industri tanpa sumber daya manusia. Tidak akan mengembangkan teknologi tanpa anak muda yang menguasainya. Tidak akan mengubah pertanian tanpa petani yang memperoleh pengetahuan dan akses terhadap teknologi.

Karena itu, pendidikan harus menjadi bagian utama dari agenda generasi kedua perdamaian.

Generasi muda Aceh harus memiliki kesempatan untuk menguasai teknologi, bisnis, ekonomi digital, pertanian modern, energi, desain, sains, dan berbagai keterampilan baru.

Jangan sampai anak muda Aceh hanya menjadi pengguna teknologi.

Kalau memungkinkan, mereka harus menjadi pencipta.

Mereka harus menjadi orang yang membangun perusahaan teknologi, mengembangkan aplikasi, mengolah hasil pertanian dengan teknologi, menciptakan produk baru, dan membawa usaha Aceh ke pasar dunia.

Di sinilah bentuk perjuangan berubah.

Jika generasi sebelumnya berjuang dalam kondisi konflik yang penuh risiko, generasi sekarang harus berjuang di ruang yang berbeda: ruang kelas, laboratorium, perusahaan rintisan, sawah, pelabuhan, pasar, dan dunia digital.

Sejarah sebagai Pelajaran, Bukan Tempat Tinggal

Tentu saja, perubahan arah tersebut tidak berarti melupakan sejarah.

Sejarah tetap harus dipelajari. Perjuangan tetap harus dihormati. Korban konflik tetap harus dikenang.

Tetapi sejarah seharusnya menjadi pelajaran, bukan tempat kita tinggal selamanya.

Generasi muda tidak harus mewarisi seluruh pertengkaran generasi sebelumnya. Mereka cukup mewarisi pelajarannya.

Sebab jika generasi baru terus dibebani oleh konflik masa lalu, energi yang semestinya digunakan untuk membangun masa depan akan habis untuk mempertahankan perdebatan yang tidak pernah selesai.

Perdamaian justru memberi kesempatan kepada generasi berikutnya untuk memulai percakapan baru.

Bukan lagi tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Melainkan tentang siapa yang mampu membangun.

Apa yang Akan Kita Tinggalkan?

Mungkin inilah inti dari generasi kedua perdamaian Aceh.

Menghargai perjuangan generasi pertama bukan berarti terus hidup dalam suasana perjuangan mereka. Justru penghormatan terbaik adalah melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.

Jika generasi pertama berjuang untuk menghentikan konflik, generasi kedua harus berjuang agar perdamaian menghasilkan kesejahteraan.

Bukan dengan senjata, tetapi dengan pendidikan.

Bukan dengan konflik, tetapi dengan ekonomi.

Bukan dengan memperbesar perbedaan, tetapi dengan membangun sesuatu yang manfaatnya dapat dirasakan bersama.

Pada akhirnya, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.

Bukan lagi:

“Siapa yang menang dan siapa yang kalah?”

Melainkan:

“Apa yang sudah kita bangun setelah perdamaian?”

Dan pertanyaan yang lebih penting:

“Apa yang akan kita tinggalkan untuk generasi Aceh setelah kita?”

Sebab perdamaian bukan hanya tentang berhentinya perang.

Perdamaian adalah kesempatan.

Dan kesempatan itu hanya akan berarti jika kita menggunakannya untuk membangun masa depan.

Penulis Penikmat Kopi Pancong, berdomisili Banda Aceh, email : [email protected]

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...