Takengon. RU – Menjelang dimulainya proses belajar mengajar pascalibur Idul Adha, sejumlah siswa di Aceh Tengah yang terdampak bencana, masih harus belajar di tenda.
“Saat ini ada sekitar 12 sekolah yang masih belajar di tenda darurat,” kata Plt Kadis Pendidikan Aceh Tengah, Salimsyah, dikutip Minggu (31/05/2026).
Adapun 12 sekolah itu tersebar di Kecamatan Ketol, Bintang dan Linge dengan kondisinya cukup bervariasi yakni ada yang tidak bisa dipakai sama sekali untuk proses belajar mengajar dan ada lokasi sekolah awal terpisah oleh sungai dari desa pelajar.
Salimsyah menyampaikan, rata-rata sekolah di Aceh Tengah terdapat pembatas sungai yang melebar pascabencana yang memicu kekhawatiran keselamatan anak-anak sehingga terpaksa dibuat sekolah darurat sementara.
“Ada inisiatif pemerintah daerah membangun dua tempat, pertama sekolah asal, kedua ada tempat yang bisa dimanfaatkan di tenda. Ada beberapa titik seperti itu , Ketol, Bintang dan Linge,” ujarnya.
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah daerah terus berupaya menghadirkan ruang belajar darurat, sehingga tidak lagi di tenda sembari menunggu pembangunan sekolah permanen.
Terkait relokasi sekolah yang berada di titik rawan bencana, pihaknya berupaya menyiapkan persyaratan surat tanah yang selama ini masih menjadi kendala utama pengusulan pembangunan sekolah baru.
Ketua Tim Satgas PRR Aceh Kemendagri, Imran mengatakan bahwa pemerintah daerah sedang mengupayakan sekolah sementara terhadap anak-anak yang masih belajar di tenda darurat sembari menunggu penganggaran sekolah baru.
“Dalam waktu singkat pemerintah daerah bisa sementara menggunakan sekolah yang masih bisa digunakan dari pada belajar di tenda. Sambil menunggu dibangun sekolah permanen. Kita harap Pemkab cepat bangun sekolah sementara,” demikian Imran.(TH05)














