Banda Aceh. RU – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Aceh tumbuh 4,13 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Triwulan III 2026. Angka tersebut melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,46 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria, mengatakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh berdasarkan harga berlaku pada Triwulan III 2026 mencapai Rp71,17 triliun. Sementara berdasarkan harga konstan 2010, nilainya sebesar Rp41,88 triliun.
“Jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya, ekonomi Aceh mengalami pertumbuhan sebesar 4,13 persen secara y-on-y,” kata Agus, Kamis (05/11/2026).
Selain secara tahunan, ekonomi Aceh juga tumbuh 1,01 persen secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q) dibandingkan Triwulan II 2026. Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang mencapai 3,77 persen.
Agus menjelaskan, perlambatan juga terlihat pada pertumbuhan y-on-y. Pada Triwulan II 2026, ekonomi Aceh tumbuh 4,86 persen, sedangkan pada Triwulan III turun menjadi 4,13 persen. Meski melambat, ekonomi Aceh masih berada pada level pertumbuhan positif.
“Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian masih mendominasi struktur ekonomi Aceh dengan kontribusi sebesar 30,79 persen. Namun, sektor tersebut hanya tumbuh 0,16 persen dan memberikan andil 0,04 persen terhadap pertumbuhan ekonomi,” sebutnya.
Kemudian, sektor konstruksi dan perdagangan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Aceh pada Triwulan III 2026. Konstruksi tumbuh 13,40 persen dengan andil 1,26 persen.
Sementara perdagangan tumbuh 6,45 persen dengan andil sebesar 1,01 persen. Administrasi pemerintahan juga memberikan andil cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh, yakni sebesar 0,71 persen.
“Pertumbuhan ekonomi Aceh pada Triwulan III Tahun 2026 terutama ditopang oleh lapangan usaha konstruksi, perdagangan, dan administrasi pemerintahan,” ucapnya.
Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Aceh terutama didorong oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), konsumsi pemerintah, dan konsumsi rumah tangga. PMTB tumbuh 13,02 persen dengan andil pertumbuhan sebesar 4,15 persen.
Konsumsi pemerintah tumbuh 21,82 persen dengan andil 3,17 persen, sedangkan konsumsi rumah tangga tumbuh 3,39 persen dengan andil 1,83 persen.
Adapun ekspor barang dan jasa tumbuh 1,51 persen dengan andil 0,84 persen. Sementara impor tumbuh 10,96 persen, tetapi menjadi komponen pengurang dalam penghitungan PDRB menurut pengeluaran.
Dalam perkembangan ekonomi regional, seluruh provinsi di Pulau Sumatra mencatat pertumbuhan ekonomi positif secara tahunan pada Triwulan III 2026.
Ekonomi Aceh tumbuh 4,13 persen dengan kontribusi sebesar 4,75 persen terhadap total perekonomian Sumatra. Pertumbuhan tertinggi di wilayah tersebut tercatat di Kepulauan Riau sebesar 7,52 persen. “Sementara Sumatera Utara dan Riau menjadi dua provinsi dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Sumatra, masing-masing 23,50 persen dan 23,43 persen,” ucapnya.(TH05)













