Washington. RU – Tekanan perang Iran terhadap ekonomi global semakin terasa. Harga minyak Brent saat ini mendekati 109 dolar AS per barel, sedangkan harga solar Amerika Serikat menembus rekor di atas 6 dolar AS per galon, sementara lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz kembali menyusut tajam.
Harga Brent naik menjadi sekitar 108,68 dolar AS per barel pada perdagangan Sabtu, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai 103,45 dolar AS. Keduanya berada di jalur membukukan kenaikan mingguan sekitar 13 persen, dengan minyak berpotensi menutup satu pekan di atas 100 dolar AS untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei.
Lonjakan itu terjadi setelah rangkaian serangan baru terhadap kapal dan fasilitas energi di kawasan Teluk memperbesar kekhawatiran mengenai pasokan.
Sehari sebelumnya, Brent dilaporkan melonjak lebih dari enam persen menjadi 107,63 dolar AS per barel, sedangkan WTI mencapai 102,48 dolar AS.
Masalah yang kini semakin mendapat perhatian bukan hanya harga minyak mentah. Pasokan solar, bensin dan bahan bakar jet ikut mengetat setelah perang Iran, serangan Ukraina terhadap kilang Rusia, pembatasan ekspor solar Rusia, dan terganggunya produksi kilang di sejumlah kawasan terjadi secara bersamaan.
“Konflik telah memasuki tahap baru,” kata Wakil Presiden Senior Rystad Energy Susan Bell, sebagaimana dilaporkan Fortune pada Sabtu (12/09/2026).
“Persediaan global solar, bensin, dan bahan bakar jet telah terkuras sangat besar. Sekarang semuanya berada pada tingkat kritis yang rendah.”
Menurut Bell, level persediaan sejumlah bahan bakar olahan telah turun ke tingkat yang terakhir terlihat setelah Rusia menginvasi Ukraina. Kondisi tersebut meningkatkan risiko munculnya kantong-kantong kelangkaan bahan bakar apabila gangguan pasokan berlangsung hingga musim gugur dan musim dingin.
Hormuz Kembali Tersendat
Tekanan terbesar tetap datang dari Selat Hormuz, jalur sempit yang sebelum perang dilewati sebagian besar ekspor energi dari negara-negara Teluk. Gangguan di kawasan tersebut membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap serangan baru terhadap kapal tanker.
Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan hanya tujuh kapal melintasi Hormuz pada Rabu. Jumlah itu turun dari 12 kapal sehari sebelumnya dan hanya separuh rata-rata 10 hari yang mencapai 14 kapal.
Dari tujuh kapal tersebut, empat meninggalkan Teluk dan tiga masuk. Tidak satu pun kapal tanker gas alam cair atau LNG tercatat melintas, meskipun terdapat kemungkinan sejumlah kapal bergerak dengan transponder dimatikan sehingga tidak masuk dalam perhitungan.
Penggunaan metode “dark crossing” atau pelayaran dengan sistem pelacakan dimatikan memang membuat volume sebenarnya sulit dihitung. Namun, analis mengatakan sekitar sepertiga ekspor minyak Teluk masih hilang dibandingkan sebelum perang, meskipun sebagian tanker terus melintas tanpa terdeteksi secara normal.
Ekspor negara-negara Teluk kini diperkirakan berkisar 15 juta hingga 16 juta barel per hari atau sekitar dua pertiga tingkat sebelum perang. Kondisi tersebut menunjukkan pasokan belum berhenti sepenuhnya, tetapi pasar kehilangan bantalan dalam jumlah sangat besar.
Diesel Jadi Lampu Merah
Jika harga minyak 100 dolar AS menjadi angka yang paling mudah menarik perhatian, para analis justru semakin mengkhawatirkan diesel. Bahan bakar itu menggerakkan armada truk, mesin pertanian, konstruksi, industri, pengiriman barang dan berbagai bagian lain dari rantai pasok dunia.
Harga rata-rata diesel di Amerika Serikat untuk pertama kalinya menembus 6 dolar AS per galon pada Kamis. Persediaan diesel AS berada sekitar 13 persen di bawah rata-rata lima tahun dan margin pengolahan kilang telah mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah.
Dan Pickering, pendiri perusahaan konsultasi energi Pickering Energy Partners, mengatakan keterbatasan pasokan diesel menjadi risiko yang lebih besar daripada sekadar kenaikan harga minyak mentah.
“Pasar global sedang memperebutkan pasokan diesel yang terbatas. Jadi, kapan kita harus khawatir? Kita harus khawatir sekarang,” kata Pickering.
Menurutnya, tidak terdapat katup pelepas yang mudah karena kapasitas kilang tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Ia menilai perhatian terhadap minyak 100 dolar AS justru dapat menutupi sinyal yang lebih serius dari harga diesel yang telah menembus 200 dolar AS per barel di pasar grosir AS.
“Ada kesadaran yang semakin besar bahwa diesel sekarang merupakan tanda bahaya yang lebih besar. Orang-orang memperhatikan minyak 100 dolar AS, tetapi sebenarnya mereka harus memperhatikan diesel 200 dolar AS,” katanya.
EIA: Stok Solar akan Tetap Rendah
Data resmi pemerintah AS ikut memperkuat kekhawatiran tersebut. Energy Information Administration atau EIA dalam proyeksi terbaru yang dirilis 9 September memperkirakan persediaan bahan bakar distilat AS akan jatuh di bawah 100 juta barel pada September.
EIA memperkirakan persediaan itu tetap berada di bawah batas bawah rentang lima tahun hingga akhir 2026 dan sepanjang sebagian besar 2027. Distillate fuel oil merupakan kategori yang mencakup sebagian besar solar yang digunakan kendaraan berat dan kegiatan ekonomi.
Menurut EIA, stok mulai turun di bawah rentang lima tahun pada April setelah AS meningkatkan ekspor bahan bakar untuk mengisi kehilangan besar pasokan dari Timur Tengah, Rusia, dan China. Ketatnya pasar internasional kemudian membuat harga distilat terus meningkat sepanjang musim panas.
Kondisi tersebut juga menunjukkan mengapa persoalan bahan bakar olahan berbeda dari minyak mentah. Negara dapat melepaskan minyak dari cadangan strategis, tetapi minyak tersebut masih harus diproses di kilang sebelum menjadi solar, bensin atau bahan bakar jet.
Cadangan Minyak AS Ikut Menyusut
Amerika Serikat sendiri telah banyak menggunakan Strategic Petroleum Reserve atau SPR sepanjang perang. Data terakhir EIA menunjukkan persediaan SPR berada sekitar 322,2 juta barel pada akhir Juni, turun tajam dari sekitar 415,4 juta barel pada Februari.
Analis menyebut tingkat tersebut merupakan yang terendah sejak 1982. Penurunan cadangan memperkecil bantalan apabila perang kembali menyebabkan gangguan pasokan yang lebih besar.
Situasinya tidak berarti dunia akan segera kehabisan minyak. Produksi dari Amerika Utara dan sejumlah negara non-OPEC, jalur ekspor alternatif negara-negara Teluk, serta penghancuran permintaan akibat harga tinggi sejauh ini membantu mencegah skenario kekurangan yang jauh lebih buruk.
Bahkan pasar bahan bakar kapal telah menunjukkan kemampuan beradaptasi. Reuters melaporkan tekanan pasokan marine fuel di beberapa pusat pelayaran besar mulai mereda karena pedagang menemukan sumber alternatif, meski harga tetap jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.
Ancaman Kelangkaan Muncul
Bell memperkirakan risiko kekurangan akan meningkat menjelang musim gugur dan musim dingin, khususnya untuk solar. Inggris, bagian lain Eropa, serta sejumlah negara Asia Selatan disebut termasuk wilayah yang berpotensi paling rentan jika pasokan terus mengetat.
Namun, perkiraan tersebut merupakan proyeksi Rystad Energy dan belum berarti kelangkaan luas telah terjadi di seluruh kawasan tersebut. Pasar energi selama perang juga beberapa kali terbukti lebih adaptif daripada perkiraan awal.
Bell mengatakan mekanisme pasar pada akhirnya dapat memaksa konsumsi turun melalui harga yang lebih tinggi.
Dalam ekonomi energi, proses itu dikenal sebagai demand destruction atau penghancuran permintaan, ketika konsumen dan perusahaan mengurangi pemakaian karena biaya sudah terlalu mahal.
“Saya tidak suka mengatakan ini, tetapi harga di pompa perlu naik lebih tinggi untuk mendorong konsumen mengambil keputusan mengenai konsumsi energi mereka,” kata Bell.
Ia mengatakan dunia mungkin membutuhkan langkah penghematan lebih besar jika produksi dan arus perdagangan tidak pulih.
Inflasi Mulai Menunjukkan Dampaknya
Ancaman dari harga energi kini tidak lagi hanya terlihat pada pasar komoditas. Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi harga produsen naik 0,4 persen pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara tahunan, Producer Price Index atau PPI meningkat 5,4 persen, naik dari 4,8 persen pada Juli. Harga energi melonjak 4,2 persen dalam sebulan, sementara harga solar dalam indeks produsen meningkat 24,1 persen dan 78 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Solar mempunyai efek ekonomi yang luas karena kenaikannya tidak berhenti pada pengemudi truk. Biaya membawa makanan, barang konsumsi, bahan baku industri dan hasil pertanian ikut meningkat dan akhirnya dapat diteruskan kepada konsumen.
Pickering memperingatkan risiko tersebut dapat berkembang menjadi persoalan global. “Risiko bahwa ini muncul dalam inflasi semakin besar, bukan hanya inflasi AS, tetapi inflasi global,” katanya kepada Fortune.
Bank Sentral Mulai Bereaksi
Kekhawatiran bahwa guncangan energi akan memaksa bank sentral kembali memperketat kebijakan moneter juga mulai terbukti. Bank Sentral Eropa atau ECB pada Kamis menaikkan suku bunga utama sebesar 25 basis poin dari 2,25 persen menjadi 2,5 persen.
Kenaikan itu merupakan yang kedua tahun ini dan berlangsung ketika harga energi yang dipicu perang kembali memperburuk tekanan inflasi. ECB juga menaikkan proyeksi inflasinya, sementara pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pengetatan tambahan.
Di Amerika Serikat, data inflasi produsen juga meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Probabilitas yang tercermin di pasar untuk kenaikan suku bunga meningkat menjadi sekitar 70 persen setelah data PPI keluar.
Namun, keputusan The Fed belum ditentukan. Data inflasi konsumen dan indikator ekonomi lain masih akan menjadi pertimbangan sebelum bank sentral mengambil keputusan.
Konsumen Mulai Mengubah Kebiasaan
Dampak harga energi juga mulai terlihat dalam perilaku masyarakat Amerika. Harga rata-rata bensin reguler AS telah bergerak mendekati 4,28 dolar AS per galon, meningkat sekitar 34 persen dibandingkan setahun sebelumnya.
Perusahaan ritel dan pompa bensin mulai melihat perubahan pola konsumsi. Casey’s General Stores, salah satu jaringan convenience store terbesar di AS, mengatakan konsumen membeli lebih sedikit bahan bakar dalam satu transaksi dan mulai beralih dari bensin premium ke jenis reguler yang lebih murah.
“Dengan harga bahan bakar yang lebih tinggi, kami melihat persis perilaku yang kami perkirakan, yakni lebih sedikit galon dalam setiap pembelian tetapi frekuensi kunjungan lebih banyak,” kata CEO Casey’s Darren Rebelez dalam paparan laporan keuangan, sebagaimana dikutip Fortune.
Ia mengatakan konsumen berpenghasilan lebih rendah menunjukkan perubahan perilaku belanja yang lebih jelas.
Perubahan tersebut penting karena menunjukkan demand destruction mulai terjadi tidak hanya dalam model ekonomi, tetapi pada keputusan konsumen sehari-hari.
Trump Kaitkan Perang dengan Pemilu
Tekanan energi datang kurang dari dua bulan sebelum pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Presiden Donald Trump pada Rabu menuding Iran berusaha mempertahankan perang sampai pemilu untuk melemahkan posisi politiknya.
“Mereka putus asa mencoba memengaruhi pemilu agar kita mendapatkan sekelompok orang lemah di sana, membiarkan mereka, dan membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
Ia mengatakan Iran sedang kehilangan kemampuan bertahan dan memperkirakan konflik akan berakhir segera setelah pemilu.
Trump tidak memaparkan bukti bahwa Teheran sengaja memperpanjang perang untuk memengaruhi pemilu AS. Iran juga selama ini membantah berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Bagi Gedung Putih, persoalannya semakin rumit karena harga energi langsung menyentuh salah satu kelemahan politik pemerintah, yakni biaya hidup. Lonjakan solar dapat masuk ke harga hampir seluruh barang yang harus diangkut, sementara bensin memberikan pengingat yang sangat kasatmata kepada pemilih setiap kali mereka mengisi kendaraan.
Bisakah Dunia Bertahan hingga Akhir Tahun?
Kepala Ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti memperkirakan kombinasi pengurasan persediaan dan penurunan permintaan akibat harga tinggi masih dapat menjaga keseimbangan pasar sampai November atau awal Desember. Tetapi ia memperingatkan situasinya akan menjadi semakin sulit apabila perang terus berlangsung memasuki 2027.
Menurut Galimberti, gencatan senjata antara Washington dan Teheran pada akhirnya mungkin diperlukan untuk menghindari kerusakan ekonomi yang jauh lebih besar. “Pemerintahan Trump akan ingin menunjukkan bahwa inflasi berada di bawah kendali,” katanya kepada Fortune.
Masalahnya, sejauh ini tidak ada kepastian mengenai kapan perang akan selesai atau arus energi melalui Hormuz dapat kembali normal. Bahkan industri minyak Asia kini dilaporkan mulai mempersiapkan diri menghadapi gangguan berkepanjangan daripada mengandalkan penyelesaian cepat.
Krisis energi karena itu memasuki fase yang berbeda. Dunia sejauh ini berhasil menghindari skenario terburuk berupa terhentinya total pasokan Teluk, tetapi bantalan berupa stok minyak, bahan bakar olahan, kapasitas kilang dan jalur pelayaran alternatif semakin menipis.
Harga Brent yang mendekati 109 dolar AS dan solar Amerika yang sudah menembus 6 dolar AS menjadi sinyal bahwa biaya perang kini bergerak jauh melampaui medan tempur.
Jika gangguan terhadap Hormuz terus berlangsung, pertarungan berikutnya bukan hanya mengenai siapa menguasai jalur energi, tetapi bagaimana pemerintah dan bank sentral mencegah krisis pasokan berubah menjadi gelombang inflasi baru di seluruh dunia.(TH05/Republika)













