Krisis Solar tak Berujung, Warga Abdya Ungkap Kekecewaan

Antrean panjang kendaraan di SPBU Pantee Pirak, Kecamatan Susoh. Minggu 2 November 2025. [Foto Dok : rahasiaumum.com/T018]

Blangpidie. RU – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, khususnya solar, kembali menjadi keluhan utama masyarakat di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Meski berlangsung bertahun-tahun, hingga kini persoalan tersebut tak kunjung tertuntaskan.

Akibatnya, antrian panjang kendaraan masih menghiasi tiga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang beroperasi di wilayah itu.

Pantauan rahasiaumum.com, tiga titik SPBU, masing-masing di Keudee Paya (Blangpidie), Pantee Pirak (Susoh) dan Babah Rot, terlihat dipenuhi truk, bus, minibus hingga kendaraan angkutan barang yang mengular hingga ratusan meter.

Antrean mulai terbentuk sejak pukul 12.00 WIB, jauh sebelum pasokan solar tiba.

Namun ironi terjadi saban waktu. Meski telah menunggu berjam-jam dalam panas dan hujan, tak sedikit pengendara kecewa karena solar disebut telah habis, saat giliran mereka mendekati dispenser pengisian.

Situasi tersebut memicu amarah dan kekecewaan yang tak terbendung.

“Sudah antri dari siang, giliran udah dekat, petugas bilang solar habis. Rasanya seperti dipermainkan,” kesal Razali, sopir truk asal Kecamatan Lembah Sabil, Minggu (02/11/2025)

Hal senada juga diungkapkan Suryadi, sopir bus lintas Abdya–Tapaktuan.

Ia menilai kelangkaan solar seolah dibiarkan tanpa penyelesaian serius.

“Ini bukan sekali dua kali, tapi sudah bertahun-tahun. Kalau alasan distribusi, kenapa tidak ada solusi? Apa fungsi pengawasan? Kami ini nyari makan, bukan nyari masalah,” kesalnya.

Warga dan sejumlah sopir menilai, persoalan kelangkaan solar di Abdya bukan hanya soal kuota, tetapi juga lemahnya pengawasan dari pihak terkait.

Isu “penyusup antrian”, penimbunan, hingga diduga adanya distribusi tidak tepat sasaran, menjadi suara yang kerap terdengar di kalangan pengguna jalan.

“Kalau semua tepat sasaran, mustahil solar cepat habis. Ini pasti ada permainan. Entah siapa yang bermain, yang jelas rakyat kecil yang dirugikan,” sebut Junaidi, sopir pick up dari Kecamatan Kuala Batee.

Ia meminta pemerintah daerah, Pertamina dan aparat penegak hukum, untuk turun secara langsung, tanpa sekadar melakukan inspeksi formalitas di atas kertas.(T018)

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...