Banda Aceh. RU – Sekitar 16.276 hektare sawah rusak berat akibat bencana hidrometeorologi di Aceh masih menunggu penanganan.
Kondisi itu dikeluhkan masyarakat kepada Staf Khusus Gubernur Aceh Junaidi melalui laporan yang disertai dokumentasi lapangan awal September 2026.
Dokumentasi menunjukkan sejumlah sawah mengering dan ditumbuhi semak, sementara saluran irigasi tertimbun material banjir.
Aduan berasal dari Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Aceh Timur, hingga Bireuen.
Menurut Junaidi, kondisi di lapangan masih memerlukan penanganan lanjutan. Laporan ini sudah kami teruskan kepada Gubernur, serta Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh. Selasa (08/09/2026).
“Kami berharap percepatan penanganan ini benar-benar menjadi prioritas, karena dampaknya langsung dirasakan petani. Banyak lahan yang sudah tidak bisa ditanami sejak bencana terjadi. Sesuai arahan Bapak Gubernur, kami mendorong agar seluruh pihak mempercepat penanganan di lapangan,” katanya, Selasa (08/09/2026).
Aduan tersebut telah dilaporkan kepada Gubernur Aceh Muzakir Manaf.
Ia mengarahkan Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Azanuddin Kurnia mempercepat pemulihan, dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota, TNI, kelompok tani, serta berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian.
Gubernur juga meminta pengiriman surat kepada Menteri Pertanian dan Menteri ATR/BPN.
Kementerian Pertanian diminta menghitung kebutuhan biaya rehabilitasi per hektare, sedangkan ATR/BPN membantu mengidentifikasi batas lahan yang tidak lagi terlihat.
Selain 16.276 hektare sawah rusak berat, sebanyak 40.852 hektare yang mengalami kerusakan ringan dan sedang ditargetkan selesai ditangani pada 2026.(R10)













