AS Tolak Rencana Israel Kosongkan Gaza

Gaza Barat
Para pejabat di Israel berencana memindahkan penduduk Palestina dari Gaza. [Foto: nytimes/Rahasiaumum.com]

Washington. RU – Amerika Serikat secara terbuka menolak seruan para pejabat tinggi Israel agar penduduk Palestina dipindahkan dari Gaza. Ini pertunjukkan perbedaan sikap yang jarang terjadi antara kedua negara sekutu tersebut.

Saat dimintai tanggapan mengenai seruan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, untuk mengosongkan Gaza dari penduduk sebagai satu-satunya “solusi” atas krisis tersebut, Departemen Luar Negeri AS menegaskan kembali komitmen Washington terhadap “rencana perdamaian” 20 poin Presiden Donald Trump yang menetapkan “gencatan senjata” tahun lalu.

“Sebagaimana dinyatakan secara eksplisit dalam Poin 12 rencana Presiden: ‘Tidak ada seorangpun yang akan dipaksa meninggalkan Gaza, dan mereka yang ingin pergi bebas untuk melakukannya serta bebas untuk kembali. Kami akan mendorong warga untuk tetap tinggal dan menawarkan kesempatan bagi mereka untuk membangun Gaza yang lebih baik’,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS. 

“Amerika Serikat tidak mendukung rencana atau usulan apapun terkait pemindahan paksa, pengusiran, atau relokasi wajib penduduk Gaza,” tambahnya. 

Katz sebelumnya mengatakan bahwa Trump hanya “menangguhkan”—bukan membatalkan—dukungannya terhadap gagasan memindahkan warga Palestina keluar dari wilayah tersebut; sebuah usulan yang menurut para pegiat hak asasi manusia sama saja dengan pembersihan etnis. 

“Pada akhirnya, tidak ada solusi nyata bagi Gaza tanpa adanya migrasi ini,” ujar Katz pada Rabu, 2 September 2026.

Para pejabat Israel telah menggunakan istilah “migrasi” sebagai eufemisme untuk mengosongkan Gaza dari penduduknya.

Katz mengatakan pemerintah Israel siap mengeluarkan warga Palestina dari Gaza “melalui jalur laut, udara, dan cara apa pun untuk mewujudkannya,” seraya menambahkan bahwa gagasan tersebut “terus-menerus dibahas.”

Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir melontarkan pernyataan serupa dengan Katz pada keesokan harinya. “Alih-alih ilusi perdamaian saat ini, kita membutuhkan tindakan emigrasi sekarang,” kata Ben-Gvir. 

“Daripada [warga Palestina] menggali terowongan, sudah saatnya mereka berkemas.” 

Negara-negara Arab pun bereaksi, termasuk beberapa sekutu dekat AS, yang secara tegas menolak segala upaya untuk memindahkan warga Palestina dari tanah mereka.(TH05/Republika)

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...