Banda Aceh. RU – Wajah Aceh dalam dua hingga tiga dekade mendatang dinilai sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang dibangun saat ini.
Karena itu, pendidikan tidak cukup mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga perlu membentuk generasi berkarakter, berakhlak, berintegritas, serta tetap memiliki jati diri Aceh.
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Musriadi Aswad, mengatakan pendidikan merupakan jalan damai untuk membangun peradaban Aceh yang mulia.
Menurut dia, kemajuan pendidikan harus berjalan bersama penguatan karakter, nilai keislaman, budaya, dan kearifan lokal.
“Pendidikan adalah jalan damai menuju peradaban yang mulia. Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga harus membentuk karakter, akhlak, integritas, dan kepedulian sosial,” kata Musriadi kepada rahasiaumum.com, Kamis (03/09/2026).
Musriadi menyebut Aceh memiliki kekhususan dalam penyelenggaraan pendidikan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Pasal 216 UU tersebut menjamin hak masyarakat memperoleh pendidikan bermutu dan Islami dengan tetap menjunjung nilai Islam, budaya, kemajemukan, demokrasi, dan keadilan.
Ketentuan itu diperkuat melalui Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015.
Menurut Musriadi, perkembangan teknologi digital turut menghadirkan tantangan baru.
Sekolah dan madrasah tidak cukup berfokus pada capaian akademik, tetapi juga harus membekali peserta didik dengan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, etika, dan integritas.
“Di era digital, anak-anak kita harus memiliki kemampuan untuk memilah informasi, berpikir kritis, memahami etika, dan tetap memiliki integritas. Kemajuan teknologi harus menjadi alat untuk membangun manusia, bukan justru menjauhkan generasi dari nilai-nilai yang menjadi jati dirinya,” ujarnya.
Ia menegaskan pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar program pembangunan yang hasilnya diukur dalam waktu singkat.
“Pendidikan adalah investasi peradaban. Kalau kita ingin melihat wajah Aceh 20 atau 30 tahun ke depan, lihatlah bagaimana kita mendidik anak-anak Aceh hari ini,” tegasnya.
Musriadi mengajak guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat membangun ekosistem pendidikan yang maju tanpa meninggalkan akar nilai serta identitas Aceh.
“Bangun pendidikan Aceh yang maju tanpa kehilangan jati diri, modern tanpa meninggalkan nilai luhur, serta cerdas tanpa kehilangan akhlak. Dari pendidikan yang berkualitas, kita membangun generasi; dari generasi berkarakter, kita membangun peradaban Aceh yang mulia,” pungkas Musriadi.(RSR12)













