Siswa SMAN 1 Banda Aceh Rebut 1 Emas dan 1 Perak di Ajang WSEEC

Banda Aceh. RU – Tim riset siswa/i SMA Negeri 1 Banda Aceh sukses merebut satu medali emas dan satu medali perak pada ajang 6th World Science, Environment, and Engineering Competition (WSEEC) 2026.

Kompetisi berskala internasional ini diselenggarakan 5 sampai 14 Agustus 2026 lalu, oleh Universitas Pancasila (UP) bekerja sama dengan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) yang diikuti oleh 248 tim utusan 10 negara, diantaranya Amerika Serikat, Kanada, China, Iran, Korea Selatan, Meksiko, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Indonesia selaku tuan rumah. 

Kepala SMA Negeri 1 Banda Aceh, Muhibbul Khibri MPd mengatakan, medali emas berhasil ditorehkan oleh tim SMAN 1 Banda Aceh pada kategori Social Science, melalui riset berjudul “The Thread of Tolerance: Developing Acculturated Gayo-Chinese Apparel Design for Cultural Sustainability and Economic Empowerment.” Tim ini menyoroti harmonisasi budaya Gayo dan Tionghoa.

Ia menuturkan, riset ini tidak hanya menawarkan pelestarian warisan budaya melalui desain busana, tetapi juga mengulas potensi pemberdayaan ekonomi lokal. 

Kemudian, Inovasi Kulit Jeruk Bali, mampu mempersembahkan medali perak, pada kategori Life Science melalui judul “Potential of Grapefruit (Citrus Maxima) Peel Extract as a Natural Photoprotective Agent in Sunblock Preparation,”

Inovasi ini menawarkan solusi cerdas dan ramah lingkungan di bidang kesehatan kulit. Berkat kecerdasan dan kerja keras Khalisa Maghfirah Muthmainnah, Khansa Abdul, Nayla Fatatun Malichah, dan Syarifah Nurusysyifa dengan guru pembimbingnya Fathiya Nufus MPd, mereka berhasil membawa pulang medali perak.

Limbah kulit jeruk bali (grapefruit) berhasil diolah menjadi ekstrak pelindung alami dari sinar UV untuk bahan sunblock.

“Pihak sekolah menyatakan rasa bangga yang mendalam atas dedikasi para siswa. Kemenangan ini bukan sekadar tentang medali, melainkan pembuktian bahwa kearifan lokal Aceh dan kepedulian terhadap lingkungan dapat diakui dan diapresiasi oleh komunitas ilmiah global,” ujar Muhibbul Khibri.(TH05)

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...