Inovasi Nalor Karya Kepala Puskesmas Banda Sakti Resmi Kantongi Hak Cipta

Kepala UPTD Puskesmas Banda Sakti, Lhokseumae, Adrina Susanti, S.Kep., MKM. Rabu 19 Agustus 2026 [Dok. IWO Aceh Tengah/rahasiaumum.com]

Lhokseumawe. RU – Upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui inovasi Tenaga Kesehatan Lorong (Nalor) kini mendapat perlindungan hukum.

Buku yang memuat inovasi tersebut resmi memperoleh pencatatan hak cipta dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.

Pencatatan itu tertuang dalam Surat Pencatatan Ciptaan Nomor 001387253 tertanggal 30 Juli 2026.

Kepala UPTD Puskesmas Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Adrina Susanti, S.Kep., MKM, tercatat sebagai pencipta sekaligus pemegang hak cipta karya tersebut.

Adrina mengaku terharu dan bahagia atas terbitnya sertifikat tersebut.

Ia berharap pengakuan negara terhadap karya Nalor dapat menjadi motivasi bagi tenaga kesehatan untuk terus menghadirkan pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Alhamdulillah, saya sangat terharu dan bahagia. Akhirnya program buku Nalor ini resmi disahkan oleh negara. Harapan kami agar petugas kesehatan, khususnya Petugas Penyelenggara Program (PPP) dan umumnya seluruh petugas kesehatan di Kota Lhokseumawe, dapat menjadikan ini sebagai semangat baru dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat,” ujar Adrina.

Menurut dia, Nalor bukan sekadar karya tertulis, melainkan gagasan untuk memperkuat pelayanan kesehatan melalui pendekatan langsung kepada warga.

Tenaga kesehatan diharapkan semakin aktif melakukan pelayanan jemput bola, termasuk mendatangi masyarakat dari rumah ke rumah.

“Semoga dengan terbitnya hak cipta ini dapat menjadi motivasi bagi petugas medis dalam memberikan pelayanan jemput bola dan pendekatan pelayanan kesehatan langsung dari rumah ke rumah kepada masyarakat. Sehingga pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat dapat terjangkau, dirasakan manfaatnya, dan terlayani dengan baik hingga ke akar rumput masyarakat di seluruh wilayah Kota Lhokseumawe,” katanya.

Berangkat dari Pengabdian

Gagasan Nalor lahir dari perjalanan panjang Adrina dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Perempuan kelahiran Aceh Utara, 26 April 1976, itu mulai mengabdi sebagai calon pegawai negeri sipil pada 1 Juni 1999.

Sejak awal pengabdian, ia berkomitmen agar layanan kesehatan tidak hanya terpusat di fasilitas kesehatan, tetapi juga hadir langsung di tengah warga.

Pada 7 Oktober 2005, Adrina dipercaya menjadi Kepala UPTD Puskesmas Banda Sakti.

Dari posisi tersebut, ia terus mendorong pola pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Kini, ia telah mencapai pangkat Pembina IV/C.

Puluhan tahun pengalaman di lapangan turut melatarbelakangi lahirnya Nalor.

Menurut Adrina, inovasi pelayanan kesehatan harus berangkat dari kebutuhan nyata warga serta pengalaman yang ditemukan dalam pelaksanaan tugas.

“Ketika niat itu mulia untuk masyarakat, maka yang dihasilkan pun akan menjadi baik,” ungkapnya.

Melalui Nalor, ia berharap warga yang menghadapi keterbatasan akses tetap memperoleh pelayanan kesehatan.

Inovasi tersebut sekaligus diharapkan memperkuat hubungan antara tenaga kesehatan dan masyarakat.

Diharapkan Menginspirasi

Bagi Adrina, pencatatan hak cipta bukanlah tujuan akhir.

Pengakuan tersebut justru diharapkan menjadi pemicu bagi tenaga kesehatan untuk melahirkan berbagai inovasi baru.

Ia berharap Nalor tidak hanya diterapkan dan dikembangkan di UPTD Puskesmas Banda Sakti, tetapi juga menginspirasi unit pelayanan kesehatan lainnya.

“Semoga ini menjadi motivasi untuk terus berkreasi dan berinovasi demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang merata, adil, dan berkualitas bagi seluruh masyarakat Kota Lhokseumawe,” ujarnya.

Sertifikat tersebut menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari pengalaman dan pengabdian di lapangan mendapat perlindungan hukum dari negara.

Berdasarkan pencatatan, perlindungan hak cipta berlaku selama 50 tahun sejak karya pertama kali diumumkan.

Bagi Adrina, pengabdian bukan semata tentang jabatan atau karya yang memperoleh sertifikat.

Lebih dari itu, Nalor menjadi ikhtiar agar pelayanan kesehatan benar-benar hadir di tengah masyarakat, hingga ke lorong, rumah, dan akar rumput.(BI09)

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...