Kutacane. RU – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kutacane mengecam aktivitas tambang tanah atau galian C di Desa Batu Dua Ratus, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara, yang dinilai membahayakan keselamatan warga dan berpotensi merusak lingkungan.
Sekretaris Umum HMI Cabang Kutacane, Muhammad Raja, mengatakan aktivitas pengerukan tanah telah menimbulkan keresahan masyarakat.
Dampaknya antara lain kerusakan jalan akibat lalu lintas truk pengangkut tanah serta debu yang mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.
Menurut Raja, pengerukan yang terus berlangsung juga meningkatkan risiko longsor dan banjir, terutama saat curah hujan tinggi.

“Kami tidak bisa tinggal diam ketika keselamatan masyarakat dipertaruhkan. Aktivitas tambang tanah di wilayah ini sudah sangat mengkhawatirkan. Jalan rusak, debu semakin parah, dan ancaman longsor semakin nyata karena kondisi tanah yang terus dikikis tanpa pemulihan,” kata Raja, Selasa (09/06/2026).
HMI juga menilai pengawasan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum terhadap aktivitas pertambangan tersebut belum maksimal.
Padahal, menurut mereka, aktivitas yang berlangsung dalam waktu lama semestinya menjadi perhatian serius, terutama jika ditemukan pelanggaran perizinan maupun pengelolaan lingkungan.
Selain itu, sejumlah lokasi bekas pengerukan disebut meninggalkan lereng terbuka yang berisiko memicu bencana saat hujan berintensitas tinggi.

Atas kondisi tersebut, HMI mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk menghentikan serta menyegel tambang yang tidak berizin atau melanggar ketentuan lingkungan.
Selain itu, haurs dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh izin pertambangan secara transparan, serta menjatuhkan sanksi tegas kepada pelaku usaha yang melanggar dan mewajibkan reklamasi.
HMI memberi tenggat waktu 3×24 jam kepada pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk mengambil langkah konkret.
Jika tidak ada tindakan, organisasi itu menyatakan akan turun bersama masyarakat menggelar aksi.
“Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Jangan sampai menunggu ada korban baru semua pihak bergerak,” ujar Raja.(AFW016)














