Jakarta.RU – Angkatan Laut Amerika Serikat mempercepat pengembangan dan pengadaan senjata hipersonik baru melalui program Multi-mission Affordable Capacity Effector (MACE).
Berdasarkan dokumen anggaran Tahun Fiskal 2027, sistem ini diproyeksikan menjadi opsi serangan hipersonik paling banyak tersedia dalam inventaris penerbangan Angkatan Laut AS.
Program ini mencuat setelah Blackbeard, produk yang dikembangkan oleh perusahaan pertahanan Castellion, terpilih sebagai pemenang program MACE.
Proses seleksi berlangsung relatif cepat, dimulai dari permintaan informasi oleh NAVAIR lebih dari dua tahun lalu hingga masuk dalam alokasi anggaran resmi.
Pada tahun fiskal 2027, Angkatan Laut AS akan mulai membeli amunisi MACE dalam jumlah besar untuk pertama kalinya, dimana sebanyak 353 unit amunisi (all-up rounds/AUR) akan diproduksi dalam tahap awal, dengan dukungan pendanaan sekitar 156 juta dolar AS.
Setelah fase produksi penuh berjalan, Angkatan Laut AS menargetkan output setidaknya 500 unit amunisi per tahun.
Program ini dijadwalkan mencapai Kemampuan Operasional Awal (Initial Operational Capability/IOC) pada 2027. Hal ini membuka jalan bagi distribusi massal amunisi dalam waktu relatif singkat.
Dengan jumlah awal 353 unit saja, Blackbeard diperkirakan langsung menjadi sistem serangan hipersonik paling melimpah dalam arsenal Angkatan Laut AS. Ini menandai pergeseran penting dalam strategi militer berbasis kecepatan dan presisi.
Blackbeard dirancang untuk berbagai platform militer, tidak hanya untuk penerbangan Angkatan Laut. Sistem ini juga dipertimbangkan untuk diintegrasikan dengan platform Angkatan Darat seperti M142 HIMARS.
Dari sisi jangkauan, Blackbeard berada dalam kategori yang setara dengan rudal anti-kapal AGM-158C LRASM, yang memiliki jangkauan lebih dari 200 mil laut dan berpotensi mencapai hingga 500 mil laut.
Namun, pendekatan desain Blackbeard berbeda secara fundamental. Dengan hulu ledak lebih kecil sekitar 95 pon, sistem ini lebih difokuskan pada serangan presisi terhadap target yang sensitif terhadap waktu (time-sensitive targets).
Platform utama peluncuran Blackbeard adalah jet tempur Angkatan Laut seperti F/A-18E/F Super Hornet dan F-35C Lightning II.
Khusus untuk F-35C, ukuran Blackbeard memungkinkan pesawat membawa hingga empat unit amunisi dalam ruang senjata internal. Ini memberikan kemampuan serangan hipersonik tanpa mengorbankan karakteristik siluman pesawat.
Kombinasi antara kecepatan hipersonik, kapasitas muatan tinggi, dan fleksibilitas platform menjadikan Blackbeard sebagai elemen penting dalam strategi militer masa depan AS.
Pengembangan ini juga mencerminkan perubahan paradigma dalam peperangan modern. Fokus tidak lagi hanya pada daya hancur, tetapi pada kecepatan, presisi, dan kemampuan menyerang target dalam waktu singkat.
Dengan meningkatnya rivalitas global, terutama dengan China dan Rusia, senjata hipersonik menjadi salah satu arena utama kompetisi militer.
Jika target produksi tercapai, Blackbeard berpotensi menjadi tulang punggung serangan cepat Angkatan Laut AS dalam dekade mendatang.
AS, China, dan Rusia dalam Perlombaan Hipersonik
Perkembangan program MACE dan sistem Blackbeard tidak dapat dilepaskan dari kompetisi global antara Amerika Serikat, China, dan Rusia dalam teknologi hipersonik.
Ketiga negara berlomba mengembangkan senjata yang mampu melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 5, sulit dideteksi, dan nyaris mustahil dicegat oleh sistem pertahanan konvensional.
Rusia sebelumnya mengklaim telah mengoperasikan sistem seperti Kinzhal dan Avangard, sementara China mempercepat pengembangan kendaraan luncur hipersonik dan sistem serangan jarak jauh.
Dalam konteks ini, percepatan produksi oleh AS mencerminkan upaya mengejar sekaligus menjaga keseimbangan teknologi di tengah rivalitas yang semakin tajam.
Perlombaan hipersonik menandai babak baru dalam perang teknologi global. Jika sebelumnya kompetisi terfokus pada nuklir, kini perhatian beralih pada kecepatan, presisi, dan kemampuan penetrasi sistem pertahanan.
Senjata hipersonik menjadi simbol pergeseran tersebut, karena menggabungkan keunggulan teknologi aerodinamika, material canggih, dan sistem navigasi mutakhir.
Negara yang mampu memproduksi dan mengoperasikan sistem ini secara massal akan memiliki keunggulan strategis dalam konflik modern, sekaligus memperluas pengaruhnya di panggung global.
Senjata Hipersonik dan Keseimbangan Kekuatan Dunia
Munculnya senjata hipersonik dalam jumlah besar berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan dunia. Kemampuan menyerang target dalam waktu sangat singkat membuat sistem pertahanan tradisional menjadi kurang efektif, sehingga memaksa negara lain untuk menyesuaikan strategi militernya.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu perlombaan senjata baru yang lebih intens dan memperbesar risiko eskalasi konflik.
Dengan demikian, pengembangan sistem seperti Blackbeard tidak hanya berdampak pada kekuatan militer AS, tetapi juga pada stabilitas geopolitik global secara keseluruhan.
F-35C dan Era Serangan Siluman Hipersonik
Integrasi amunisi hipersonik seperti Blackbeard ke dalam platform siluman menandai lompatan penting dalam konsep operasi udara Angkatan Laut AS.
Pada F-35C Lightning II, ukuran Blackbeard memungkinkan penempatan hingga empat unit di ruang senjata internal. Artinya, pesawat dapat mempertahankan low observable signature (jejak radar rendah) sambil membawa kemampuan serangan berkecepatan hipersonik, kombinasi yang sebelumnya sulit dicapai.
Konsekuensinya, siklus detect–decide–strike menjadi jauh lebih singkat. F-35C dapat menembus wilayah yang dipertahankan kuat, memperoleh data target dari sensor onboard maupun jaringan taktis, lalu meluncurkan amunisi yang melaju sangat cepat ke sasaran bernilai tinggi dan sensitif waktu.
Integrasi ini juga memperkuat konsep network-centric warfare, di mana F-35C berperan sebagai node pengumpul dan penyebar data sekaligus platform penembak presisi.
Selain domain udara dan laut, Blackbeard diproyeksikan untuk memperluas jangkauan ke ranah darat melalui integrasi dengan M142 HIMARS. Langkah ini mencerminkan pergeseran menuju kemampuan serangan lintas domain, di mana satu jenis amunisi dapat dioperasikan dari berbagai platform untuk meningkatkan fleksibilitas dan respons cepat di medan tempur.
Pendekatan multi-platform ini memungkinkan penyebaran kekuatan secara terdistribusi (distributed lethality), memperumit kalkulasi lawan, dan meningkatkan daya tahan operasi.
Dengan kemampuan diluncurkan dari kapal perang, jet tempur, hingga peluncur darat, Blackbeard menjadi bagian dari arsitektur tempur terpadu yang menghubungkan laut–udara–darat dalam satu ekosistem serangan berkecepatan tinggi dan presisi.(TH05/Republika)












