Puluhan Pengungsi di Bireuen Minta Dibangun Huntara

Pengungsi di Bireuen
Lokasi pengungsian korban banjir bandang di Gampong Meunasah Pulo Peudada, Bireuen. (Tribunnews.com)

Bireuen. RU – Tiga bulan pascabencana, sebanyak 55 Kepala Keluarga (KK) di Gampong Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, masih bertahan di tenda darurat.

Hingga kini, pembangunan hunian sementara (huntara) belum juga terealisasi, karena berdasarkan keterangan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) RI, usulan pembangunan huntara dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen belum pernah diajukan ke pemerintah pusat.

Di tengah kondisi memprihatinkan itu, para korban secara terbuka memohon perhatian Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar turun tangan membantu mereka.

Sejumlah pengungsi mengaku tak sanggup lagi bertahan, terlebih Ramadhan sedang berlangsung dan Idul Fitri kian dekat.

“Kepada Bapak Presiden Prabowo, kami korban bencana di Bireuen mohon dibangun hunian sementara. Kami sudah tidak sanggup tinggal di tenda. Anak-anak kami kepanasan, kami sengsara. Kalau tidak percaya, datanglah lihat kami,” ujar para korban dengan suara bergetar.

Sebagian warga juga mengaku belum menerima Dana Tunggu Hunian (DTH) yang sebelumnya dijanjikan sebagai solusi sementara sebelum hunian yang layak dibangun.

Tanpa kepastian bantuan, mereka merasa seperti dibiarkan menghadapi penderitaan sendiri.

Kaur Umum Desa Salah Sirong Jaya, Mukhlisin mengatakan, hingga kini 55 KK masih bertahan di tenda tanpa kepastian relokasi.

“Kami sudah menyampaikan permohonan pembangunan huntara ke Pemerintah Kabupaten Bireuen. Namun sampai sekarang belum ada realisasi,” ujarnya.(TH05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *