Dari Ladang Ganja ke Kebun Kopi, 3.346 Petani Gayo Lues Beralih Usaha

Ilustrasi. Sabtu 7 November 2026 [Dok. Generate By AI/rahasiaumum.com]

Gayo Lues. RU – Peralihan dari tanaman ganja ke perkebunan kopi mulai mengubah kehidupan masyarakat Gampong Agusen, Kabupaten Gayo Lues.

Melalui program Grand Design Alternative Development (GDAD), ribuan petani mengembangkan kopi sebagai sumber penghidupan legal dan berkelanjutan.

Perkembangan tersebut ditinjau Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Dedy Tabrani, saat mengunjungi perkebunan kopi binaan BNN di Gampong Agusen dan pabrik pengolahan kopi di Gampong Porang, Sabtu (07/11/2026).

Dedy mengapresiasi perubahan masyarakat yang mulai meninggalkan kultivasi ganja dan beralih ke perkebunan kopi.

“Perubahan yang kita saksikan di Gampong Agusen merupakan bukti bahwa pendekatan Alternative Development mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. BNN tidak hanya mengajak masyarakat meninggalkan penanaman ganja, tetapi juga memberikan alternatif ekonomi, melakukan pendampingan, dan membantu membuka akses pasar agar hasil perkebunan mereka memiliki nilai jual yang menjanjikan,” ujarnya.

Luas perkebunan kopi binaan BNN di Agusen meningkat dari 70 hektare pada 2016 menjadi 250 hektare.

Sementara itu, program GDAD di Gayo Lues telah melibatkan 3.346 petani dengan total lahan 3.554,6 hektare di 11 kecamatan.

Harga kopi di tingkat petani juga meningkat dari sekitar Rp 18.600 menjadi Rp 68.000 per kilogram. Adapun kopi olahan jenis wine dapat mencapai Rp 185.000 per kilogram.

Untuk memperkuat pemasaran, BNN menginisiasi koperasi Kopi Gayo Lues Bersinar serta memfasilitasi kemitraan dengan PT Ujang Jaya International dan Starbucks.

Kerja sama tersebut diharapkan meningkatkan kualitas dan memperluas pasar kopi petani hingga tingkat internasional.

BNN juga melakukan pendampingan mulai dari budidaya, pengolahan hasil panen hingga pemasaran.

Pendekatan persuasif dilakukan untuk membangun kepercayaan masyarakat bahwa kopi dapat menjadi sumber penghasilan alternatif yang menjanjikan.

Dalam dialog bersama Kepala BNNP Aceh, Keuchik Gampong Agusen menyampaikan bahwa masyarakat mulai merasakan manfaat ekonomi setelah beralih dari penanaman ganja ke perkebunan kopi.

BNN berharap program GDAD terus dikembangkan sebagai upaya pemberantasan kultivasi ganja melalui pendekatan kesejahteraan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.(*)

Di Balik Batu Bata, Peluh Aisyah dan Parman Menyambung Hidup

Banda Aceh. RU – Gerimis membasahi tumpukan tanah liat dan batu bata di sebuah tempat...

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...