Katalan. RU – Eks manajer Barcelona dan Manchester City, Pep Guardiola, menyatakan dukungannya terhadap konferensi Eropa untuk gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) yang akan digelar bulan depan.
Ia mengajak publik untuk berkumpul di Barcelona pada November guna memperkuat solidaritas bagi rakyat Palestina dan melawan budaya ‘diam’ terhadap ketidakadilan.
Dalam pesan video yang diunggah gerakan tersebut, Guardiola mengundang masyarakat untuk menghadiri BDS@20 Europe Regional Conference pada 18–20 November 2026.
Ia menyoroti sejarah awal kampanye ini, perjalanan dua dekade advokasi internasional, serta perjuangan hak-hak rakyat Palestina yang terus berlanjut.
“Pertemuan ini adalah momentum mempertemukan pihak-pihak yang berkomitmen merajut masa depan solidaritas Palestina,” ujarnya.
Guardiola mengutip pemikiran mendiang penulis asal Inggris, John Berger, yang memandang sejarah Palestina sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan ekstrem. Ia juga mengenang lahirnya gerakan ini yang terinspirasi oleh kampanye internasional melawan apartheid di Afrika Selatan.
“Dua puluh satu tahun lalu, terinspirasi oleh perjuangan panjang melawan apartheid Afrika Selatan, sebuah seruan dari Palestina melahirkan gerakan solidaritas global. Begitulah BDS lahir,” tuturnya.
Gerakan BDS menyerukan pemboikotan, divestasi, dan sanksi sebagai bentuk tekanan nirkekerasan terhadap Israel atas perlakuannya kepada warga Palestina. Tujuan utama gerakan ini meliputi penghentian pendudukan, pemenuhan hak yang setara, serta penegakan hak pulang bagi pengungsi Palestina.
Guardiola menggambarkan kampanye ini sebagai upaya kolektif untuk menuntut akuntabilitas dan keadilan. Menurutnya,perubahan nyata membutuhkan tekanan publik yang berkelanjutan dan penolakan terhadap segala bentuk keterlibatan dalam ketidakadilan.
“Sudah 21 tahun kita menolak ‘hukum pembisuan’,” kata Guardiola merujuk pada sejarah mobilisasi gerakan tersebut.“Sebab tidak ada genosida yang berhenti dengan sendirinya, dan perdamaian tidak pernah datang begitu saja.”
Konferensi pada November mendatang dijadwalkan menghadirkan sejumlah tokoh pembela hak-hak Palestina, pakar hukum, akademisi, jurnalis, dan seniman dari Eropa maupun penjuru dunia.
Para pembicara yang terkonfirmasi hadir antara lain mantan Menteri Hubungan Internasional dan Kerja Sama Afrika Selatan Naledi Pandor, Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Wilayah Palestina yang Diduduki sejak 1967 Francesca Albanese, serta pakar hukum internasional Noura Erakat.
Peserta lainnya meliputi dokter bedah sekaligus akademisi Inggris-Palestina Ghassan Abu-Sittah, musisi Massive Attack Robert Del Naja, aktris Hiba Abouk, presenter asal Spanyol Inés Hernand, jurnalis Olga Rodríguez, dan pendiri BDS Omar Barghouti.
Pertemuan ini bertujuan menelaah masa kini dan masa depan solidaritas internasional untuk Palestina. Gerakan ini terus mendesak pemerintah, institusi, dan pelaku bisnis agar meninjau ulang hubungan mereka dengan Israel.
“Dari Afrika Selatan hingga Palestina, kita tahu keterlibatan dalam kejahatan akan berakhir ketika keheningan pecah,ketika kita bersuara dan menyuarakan solidaritas,” ucap Guardiola mengutip warisan pemikiran aktivis dan akademisi AS,Angela Davis.
Ia menutup pesannya dengan ajakan untuk menghadiri konferensi “demi masa depan Palestina, yang merupakan masa depan kemanusiaan kita,” sembari menyelipkan slogan berbahasa Katalan, “Bridges against walls” (Jembatan melawan tembok pemisah).
Dukungan ini menyambung rekam jejak pernyataan Guardiola sebelumnya yang berulang kali menyuarakan keprihatinan atas nasib rakyat Palestina, terutama anak-anak yang terdampak serangan militer Israel di Gaza.
Ia kerap memanfaatkan ruang publik dan pidatonya untuk menarik perhatian dunia terhadap penderitaan warga sipil serta dampak kemanusiaan akibat perang.
Pada Januari 2025, dalam sebuah acara amal di Barcelona, Guardiola mendedikasikan pernyataannya untuk anak-anak di Gaza dan wilayah konflik lainnya. Ia menyoroti kehancuran serta rasa kehilangan yang dialami generasi muda. Langkah tersebut mempertegas konsistensinya memanfaatkan pengaruh publik di luar lapangan hijau untuk isu-isu kemanusiaan.
Dukungan Guardiola terhadap konferensi BDS menempatkan dirinya sejajar dengan jajaran seniman, akademisi, dan tokoh publik dunia yang terus mengawal perjuangan hak serta akuntabilitas bagi Palestina.
Para pendukung BDS memandang tekanan ekonomi dan budaya sebagai sarana sah untuk melawan kebijakan yang melanggar hukum,sementara para kritikus kerap memperdebatkan pendekatan dan dampak gerakan tersebut terhadap relasi dengan Israel.(TH05/Republika)













