Kualasimpang. RU – Penguatan komunikasi alternatif menjadi salah satu kebutuhan penting dalam penanggulangan bencana, terutama ketika jaringan telekomunikasi dan listrik terputus.
Karena itu, Wakil Bupati Aceh Tamiang Ismail, mengimbau seluruh kepala Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK), camat, dan datok penghulu kampung untuk bergabung dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).
Imbauan tersebut disampaikan Ismail dalam kegiatan Pembentukan Organisasi Lokal (Orlok) sekaligus Musyawarah Lokal (Muslok) ORARI Kabupaten Aceh Tamiang 2026 di FN Caffee, Desa Dalam, Minggu (18/10/2026).
“Seluruh Kepala SKPK, seluruh Camat, dan Datok Penghulu se-Aceh Tamiang, saya imbau untuk bergabung dan menjadi anggota ORARI. Agar kita dapat menyatu dan bekerja sama menjadi corong informasi kebencanaan,” tegas Ismail.
Menurut dia, ORARI perlu terintegrasi dengan sistem pemerintahan dan tidak hanya bergerak ketika bencana terjadi.
Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), serta instansi terkait diperlukan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan penyebaran informasi darurat.
“Jadilah ORARI sebagai mata dan telinga pertama di garis depan. Jadikan keberadaannya sebagai transformasi ruang kehidupan, dan tempatkan ORARI menjadi indikator terdepan dalam menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
Ismail juga mendorong pembentukan simpul komunikasi di wilayah rawan bencana agar setiap kecamatan memiliki jaringan radio yang siaga.
Selain kemampuan mengoperasikan perangkat, anggota ORARI diharapkan menjunjung kedisiplinan serta mematuhi ketentuan hukum dan regulasi frekuensi radio.
“Tidak hanya terampil mengoperasikan perangkat, anggota ORARI juga harus memiliki kedisiplinan dan mematuhi ketentuan hukum serta regulasi frekuensi radio,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, hadir Ketua ORARI Daerah Aceh T. Marzuki (YB6AK) dan Sekretaris ORARI Daerah Aceh Hilman Suryadi (YC6GD).
Ismail mencontohkan peran penting ORARI ketika banjir hidrometeorologi melanda Aceh Tamiang pada November 2025.
Saat itu, jaringan seluler dan listrik padam sehingga komunikasi melalui radio menjadi jalur penting untuk menyampaikan kondisi darurat kepada pihak luar.
“Melalui jalur radio itulah, Bapak Bupati dapat menyampaikan situasi darurat luar biasa ini ke dunia luar. Sehingga bantuan dan tim penyelamat segera digerakkan menuju wilayah kita,” kenang Ismail.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran mengenai pentingnya jaringan komunikasi alternatif yang andal saat infrastruktur komunikasi utama lumpuh.
“Bencana itu memberikan pelajaran mahal bagi kita semua. Dan dari pengalaman itulah, semangat untuk memperkuat keberadaan ORARI di Aceh Tamiang terus tumbuh dan berkembang,” pungkasnya.
Melalui penguatan ORARI dan keterlibatan aparatur hingga tingkat kampung, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang berharap koordinasi serta penyampaian informasi kebencanaan dapat berlangsung lebih cepat dan efektif ketika keadaan darurat terjadi.(S04)













