Dialog Kebudayaan Aceh Tamiang Dorong Pelestarian Kearifan Lokal

Foto bersama para penggiat dan budayawan Tamiang dalam forum diskusi pada peringatan hari kebudayaan nasional. Minggu 18 Oktober 2026 [Dok. rahasiaumum.com/S04]

Kualasimpang. RU – Pelestarian kebudayaan perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan dan kehidupan masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Pesan itu mengemuka dalam Dialog Kebudayaan di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu, 17 Oktober 2026, dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional.

Kegiatan yang digagas Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh tersebut mengusung tema “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya”.

Dialog ini melibatkan budayawan, penggiat budaya, penulis, pengawas sekolah, serta perwakilan sanggar dan komunitas seni di Aceh Tamiang.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang, Mustafa Kamal, S.Pd., M.M., Minggu (18/10/2026), mengatakan para penggiat budaya duduk bersama untuk bertukar gagasan mengenai kebudayaan dan kearifan lokal.

Budayawan Aceh Tamiang, Ir. Muntasir, yang menjadi narasumber utama, menegaskan bahwa Hari Kebudayaan Nasional harus menjadi momentum untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap kebudayaan.

“Hari Kebudayaan Nasional hendaknya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang kita terhadap kebudayaan,” ujar Muntasir di hadapan peserta dialog.

Menurut dia, kebudayaan tidak semata-mata berkaitan dengan masa lalu, bukan hanya tanggung jawab satu instansi, dan tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial.

Kebudayaan juga berkaitan erat dengan kehidupan, pembangunan, kepemimpinan, pendidikan, dan masa depan bangsa.

“Mari kita tumbuhkan kebudayaan, buka ruang dialog, rawat nilai-nilai luhur, perjuangkan kebudayaan dalam kebijakan pembangunan, dan selamatkan warisan sejarah sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang,” ajak Muntasir.

Dalam konteks Aceh Tamiang, ia menekankan bahwa pelestarian budaya merupakan upaya menjaga identitas daerah di tengah perubahan zaman.

“Untuk Aceh Tamiang, menjaga kebudayaan berarti merawat jati diri. Menyelamatkan sejarah berarti menjaga ingatan. Dan mewariskan pengetahuan berarti menyiapkan masa depan,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Mustafa Kamal mengapresiasi penyelenggaraan dialog tersebut.

Menurut dia, keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan kebudayaan daerah.

“Kegiatan seperti ini sangat penting dan strategis, karena melibatkan langsung para pelaku budaya dari berbagai lapisan masyarakat. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci utama agar nilai-nilai budaya kita tetap hidup dan tidak punah ditelan zaman,” ujar Mustafa Kamal kepada media ini.

Ia menambahkan, pemerintah daerah akan terus membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan kebudayaan serta mendukung berbagai upaya pelestarian.

“Kami dari pemerintah daerah akan selalu mendukung setiap upaya pelestarian budaya. Mari kita jaga bersama, karena budaya adalah jati diri kita yang tak ternilai harganya,” tambahnya.

Dialog Kebudayaan tersebut diharapkan menjadi awal dari upaya berkelanjutan untuk tidak hanya memelihara warisan budaya, tetapi juga menghidupkan dan memberdayakannya melalui keterlibatan pemerintah dan masyarakat, sejalan dengan semangat “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya”.(S04)

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...