16.283 Hektare Sawah Rusak Berat di Aceh Menunggu Pemulihan

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Azanuddin Kurnia. Selasa 13 Oktober 2026 [Dok. rahasiaumum.com/AFW11]

Kutacane. RU – Pemulihan lahan pertanian di Aceh pascabencana November 2025 masih menghadapi tantangan.

Sebanyak 16.283 hektare sawah yang masuk kategori rusak berat masih dalam proses pendataan ulang, sedangkan pemulihan sawah rusak ringan dan sedang belum sepenuhnya mengembalikan lahan ke tahap produksi.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Azanuddin Kurnia mengatakan, angka sawah rusak berat tersebut merupakan data per Februari 2026.

Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten dan kota kini memperbarui data untuk memastikan luas lahan yang membutuhkan penanganan.

Data final direncanakan rampung pada pertengahan Oktober 2026 sebelum diusulkan kepada pemerintah pusat melalui surat Gubernur Aceh.

“Kita sangat berharap, insyaallah pada 2027 Kementan bisa memfasilitasi lahan rusak berat ini,” kata Azanuddin seperti diberitakan rahasiaumum.com, Selasa (13/10/2026).

Sementara itu, pemulihan sawah rusak ringan dan sedang masih berlangsung.

Dari 23.818 hektare sawah rusak ringan pada tahap pertama, baru 2.829,19 hektare atau 11,87 persen yang ditanami. Adapun lahan yang telah dipanen sekitar 1.100 hektare atau 4,6 persen.

Pada kategori rusak sedang, dari total 4.393 hektare, lahan yang telah ditanami mencapai 1.340 hektare atau 30,50 persen.

Sementara itu, luas lahan yang sudah dipanen baru sekitar 428 hektare atau 9,74 persen.

Azanuddin mengatakan, angka penanaman dan panen tersebut masih berpotensi bertambah karena sejumlah kabupaten dan kota belum melaporkan perkembangan di lapangan kepada pemerintah provinsi.

“Angka ini sebenarnya bisa jauh lebih besar jika beberapa kabupaten yang sudah tanam dan panen sudah memberikan laporan kepada provinsi,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, program pemulihan tahap pertama mencakup 28.211 hektare sawah, terdiri atas 23.818 hektare melalui optimalisasi lahan dan 4.393 hektare melalui rehabilitasi.

Hingga 9 Oktober 2026, serapan anggaran pemulihan sawah tercatat 56,7 persen.

Pekerjaan konstruksi optimalisasi lahan mencapai 68 persen atau sekitar 15.040 hektare, tetapi pengolahan lahan baru mencapai 40 persen atau 7.035 hektare.

Sementara itu, konstruksi rehabilitasi sawah rusak sedang telah rampung 100 persen.

Namun, pengolahan lahannya baru mencapai 79,14 persen atau sekitar 3.477 hektare.

Pada tahap kedua, pemerintah merencanakan pemulihan 12.641 hektare sawah, terdiri atas 3.253 hektare melalui optimalisasi lahan dan 9.388 hektare melalui rehabilitasi.

Pekerjaan konstruksi tahap ini direncanakan dimulai pada pertengahan Oktober 2026.

Selain sawah, bencana November 2025 berdampak pada sekitar 60.438 hektare lahan perkebunan di Aceh.

Komoditas yang terdampak meliputi kelapa sawit, kopi, kakao, pinang, karet, kelapa, serai wangi, dan tembakau.

Dari total tersebut, bantuan pemulihan dari Kementerian Pertanian yang sedang berproses mencakup sekitar 40.418 hektare.

Luasan itu terdiri atas 30.039 hektare kopi arabika, 9.054 hektare kakao, 830 hektare kelapa, dan 495 hektare karet.

Azanuddin mengatakan, program bantuan perkebunan ditargetkan selesai pada akhir 2026.

Adapun pemulihan sawah rusak ringan dan sedang ditargetkan rampung tahun ini sesuai arahan Gubernur Aceh.

Dengan demikian, pemulihan sawah rusak berat masih bergantung pada penyelesaian pendataan dan pengusulan kepada pemerintah pusat.

Pemerintah Aceh berharap dukungan Kementerian Pertanian pada 2027 dapat mempercepat pemulihan lahan agar petani kembali berproduksi.(AFW11)

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...