Kutacane. RU – Hasil inspeksi Tim Tenaga Ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan setidaknya lima lokasi jembatan beserta alur sungai di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, berada dalam kondisi kritis pascabencana.
Kerusakan sarana vital ini mendesak untuk segera diperbaiki demi mencegah kelumpuhan akses masyarakat.
Temuan tersebut diperoleh usai petugas menyisir 14 titik infrastruktur di sepanjang aliran Sungai Lawe Bulan, Lawe Kisam, Lawe Kinga, hingga Sungai Pancariman, Rabu (16/09/2026).
Selain jembatan dan saluran irigasi, tim mencatat tingkat pendangkalan sungai yang terlampau parah sehingga berisiko memicu luapan air ke pemukiman warga.
Tenaga Ahli Kepala BNPB Fatchul mengungkapkan bahwa tingkat kerusakan di lapangan terbilang cukup memprihatinkan.
Sebagian bangunan jembatan terancam luapan banjir, sementara beberapa penopang lainnya rawan runtuh.
“Yang kondisinya kritis harus segera diprioritaskan dan dilaporkan kepada pimpinan untuk penanganan kebencanaan darurat,” kata Fatchul.
Atas kondisi lapangan tersebut, pihaknya berencana mengajukan usulan bantuan penanganan khusus melalui struktur Deputi BNPB agar mendapat alokasi dana dari pemerintah pusat.
“Ada lima titik yang akan kami coba usulkan melalui Deputi. BPPN R3P akan terus mendorong agar penanganannya bisa segera mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah,” ujarnya.
Secara terpisah, Penjabat Bupati Aceh Tenggara M. Salim Fakhry memaparkan bahwa rusaknya sarana penyeberangan ini langsung melumpuhkan konektivitas antarwilayah, salah satunya penghubung Kecamatan Badar dengan Darul Hasanah. Ia meminta percepatan konstruksi guna mengantisipasi ancaman bahaya yang lebih besar.
“Permohonan khusus kepada Bapak Menteri PU dan pemerintah, mohon secepatnya pembangunan ini bisa segera diselesaikan untuk menghindari risiko yang tidak kita inginkan,” ujar Salim.(AFW11)













