Proyek Tidak Dilaksanakan, Pemkab Simeulue Kembalikan Dana Hibah BNPB Rp4,4 Miliar

tambatan perahu
Kondisi tambatan perahu yang dibangun dari dana hibah BNPB di Simeulue. [Foto: Dok Warga/Rahasiaumum.com]

Sinabang. RU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simeulue, mengembalikan dana hibah dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI senilai Rp4,4 miliar, karena pengelolaan dan realisasi proyek senilai Rp6,8 miliar tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan.

“Pemkab Simeulue harus mengembalikan dana hibah BNPB senilai Rp4,4 miliar lebih karena dana yang diperuntukkan untuk dua proyek pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana tidak selesai dilaksanakan,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Simeulue, Asludin, Jumat (04/09/2026).

Ia menyebutkan, dana hibah BNPB itu diberikan untuk tiga kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana pada 2022, di antaranya pembangunan tambatan perahu. Namun, hanya satu yang selesai dilaksanakan, sementara dua lainnya bermasalah.

Pekerjaan yang tidak selesai yakni, pembangunan tambatan perahu di Desa Labuhan Bajau, Kecamatan Teupah Selatan, senilai Rp2,89 miliar. Sedangkan realisasi hanya Rp922,6 juta. 

Kemudian, pembuatan tambatan perahu di Desa Langi, Kecamatan Alafan, dengan anggaran senilai Rp3,19 miliar, Sedangkan realisasi pekerjaan hanya sebesar Rp639,63 juta.

“Dari tiga proyek tersebut hanya kegiatan pembuatan tebing sungai Desa Awe Seubel, Kecamatan Teupah Barat, yang selesai dikerjakan. Anggaran pembuatan tebing senilai Rp526 juta yang selesai dikerjakan,” kata Asludin.

Asludin menyebutkan pengembalian dana hibah dari BNPB tersebut sudah dua kali dilakukan Pemkab Simeulue. Sebelumnya, Pemkab Simeulue juga pernah mengembalikan dana hibah sebesar Rp3,1 miliar pada tahun 2011.

“Kami mengingatkan dinas teknis untuk berhati-hati dalam setiap kegiatan, sehingga pengembalian dana seperti ini tidak terjadi lagi karena merugikan daerah dan bisa saja pemberi dana menghentikan bantuan serupa,” kata Asludin.(TH05)

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...