Banda Aceh. RU – Prof Dr Mujiburrahman MAg kembali dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh untuk masa jabatan 2026–2030 oleh Menteri Agama RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar di Jakarta, pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Di periode kedua jabatannya ini, Prof Mujiburrahman mengusung visi menjadikan UIN Ar-Raniry sebagai universitas berkelas dunia yang menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang maslahat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045.
“Visi tersebut akan kami wujudkan melalui penguatan kualitas akademik, internasionalisasi perguruan tinggi, transformasi digital, pengembangan riset kolaboratif, serta pembangunan kampus yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan pendidikan,” katanya.
Menurut dia, salah satu agenda utama yang akan dijalankan secepatnya adalah modernisasi kampus melalui proyek pembangunan yang didukung pendanaan Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PHLN) periode 2026–2030.
Program tersebut mencakup pembangunan Fakultas Kedokteran, Laboratorium Halal Science and Technology, Islamic Center beserta Pusat Kajian Manuskrip, serta pembangunan masjid yang didukung Pemerintah Uni Emirat Arab.
Selain pembangunan infrastruktur, UIN Ar-Raniry juga menargetkan penguatan internasionalisasi melalui revitalisasi International Office, peningkatan kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri, penambahan jumlah mahasiswa internasional, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia dan layanan digital kampus.
Di bidang akademik, kampus juga akan mempersiapkan reakreditasi institusi untuk mempertahankan predikat Unggul, mendorong akreditasi internasional program studi, memperkuat Ma’had Jami’ah, lembaga bahasa, pusat moderasi beragama, serta meningkatkan kompetensi lulusan melalui sertifikasi profesi dan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi internasional.
“Transformasi kelembagaan juga diarahkan pada pengembangan UIN Ar-Raniry sebagai Green Campus yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, efisiensi sumber daya, ekoteologi, serta penguatan kesetaraan gender, inklusi disabilitas, dan akses pendidikan yang setara bagi seluruh civitas akademika,” ungkapnya.(TH05)













