Tuntut Ganti Rugi Lahan, Warga Hentikan Proyek Bronjong PT Waskita di Bener Meriah

Sejumlah alat berat dan truk PT Waskita dilokasi proyek. Kamis 18 Juni 2026 [Dok. rahasiaumum.com/*]

Bener Meriah. RU – Sejumlah warga pemilik lahan di Desa Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, mendatangi lokasi pembangunan bronjong yang dikerjakan PT Waskita, Rabu, 17 Juni 2026.

Mereka menuntut kejelasan pembayaran ganti rugi atas tanah yang telah digunakan untuk pekerjaan proyek tersebut.

Aksi warga dipicu oleh belum terealisasinya pembayaran ganti rugi, meski sebelumnya telah dilakukan penandatanganan titik batas lahan yang terdampak pembangunan.

Salah seorang perwakilan pemilik lahan, Khalidin Asa (68), mengatakan, warga sebelumnya dipanggil aparatur desa untuk menandatangani batas tanah yang akan digunakan dalam pembangunan bronjong.

“Tapi setelah sebulan berlalu, pihak Pertanahan belum juga melakukan pembayaran ganti rugi tanah kami, malah kami lihat di lokasi tanah kami sudah dilakukan pengerukan oleh pihak PT Waskita, tanpa ada koordinasi dengan kami selaku pemilik tanah terlebih dahulu,” ujarnya, seperti diberitakan rahasiaumum.com, Kamis (18/06/2026).

Menurut Khalidin, warga kemudian menghentikan sementara operasional alat berat ekskavator yang bekerja di lokasi hingga ada kepastian terkait hak mereka.

“Kami pemilik lahan tanah ini adalah korban bencana. Rumah dan kebun kami hilang saat bencana melanda. Wajar jika kami menuntut hak kami,” ungkapnya.

Senada dengan itu, pemilik lahan lainnya, Win Switdi, menegaskan bahwa tuntutan warga memiliki dasar hukum.

Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum beserta aturan turunannya yang menjamin hak masyarakat memperoleh ganti kerugian yang layak dan adil.

Di sisi lain, Koordinator Lapangan PT Waskita, Hendi, mengatakan pihaknya hanya bertugas melaksanakan pekerjaan konstruksi.

Urusan pembebasan lahan, kata dia, berada di luar kewenangan perusahaan dan menjadi tanggung jawab pihak pertanahan.

“Kami akan coba kordinasi kembali terkait hal ini, semoga saja ada titik terangnya,” kata Hendi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanahan Daerah Kabupaten Bener Meriah Khairmansyah melalui Sekretaris Dinas Pertanahan, Yowa Abardani Lauta, SH, MH, menjelaskan pihaknya baru menerima informasi secara lisan dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) pada pekan lalu terkait rencana kebutuhan lahan untuk pembangunan tersebut.

“Saat ini tahapan yang dilakukan hanya pendataan masyarakat, penyusunan dokumen perencanaan (DPPT), dan Kajian Tata Ruang (KKPR),” ujar Yowa.

Menurut dia, setelah menerima informasi tersebut, pihaknya langsung melakukan koordinasi internal dan mulai mengumpulkan data awal yang diperlukan.

“Disampaikan secara lisan. Setelah menerima informasi tersebut, kami langsung melakukan koordinasi internal serta mulai mengumpulkan data awal yang diperlukan,” katanya.

Yowa menyebutkan kebutuhan lahan untuk proyek jalan nasional dari Merie Satu hingga Pintu Rime Gayo relatif kecil, dengan luasan di bawah lima hektare.

Pendanaan kegiatan direncanakan bersumber dari pemerintah pusat.

Saat ini, Dinas Pertanahan Kabupaten Bener Meriah masih berada pada tahap koordinasi dan pendataan, termasuk mengidentifikasi serta mengumpulkan data.(*)

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...