Nagan Raya. RU – Rencana pengembangan tambang tembaga di Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, terus mendapat penolakan dari masyarakat setempat meski muncul klaim potensi investasi yang dapat mencapai Rp200 triliun.
Ketua Perempuan Beutong Bersatu, Saudah, menegaskan warga tidak akan mengubah sikap hanya karena adanya janji investasi bernilai besar dari sektor pertambangan.
Menurut dia, masyarakat lebih memilih mempertahankan tanah, hutan, serta sumber penghidupan yang selama ini menopang kehidupan warga dibanding menerima manfaat ekonomi yang dianggap hanya bersifat sementara.
“Kami tidak akan berubah pikiran dan akan terus menyuarakan penolakan terhadap tambang yang dapat menyebabkan kerusakan alam dan lingkungan hidup masyarakat Beutong Ateuh,” kata Saudah, seperti diberitakan rahasiaumum.com, Sabtu (30/05/2026).
Ia menegaskan masyarakat siap mempertahankan wilayah mereka dari aktivitas pertambangan meski harus menghadapi berbagai risiko.
“Kami akan pertahankan tanah Beutong meski nyawa taruhannya,” ujarnya.
Saudah menilai kesejahteraan tidak selalu ditentukan oleh besarnya nilai investasi yang masuk ke suatu daerah.
Selama alam Beutong tetap terjaga, kata dia, warga masih dapat memenuhi kebutuhan hidup melalui hasil hutan, pertanian, dan sumber daya alam yang diwariskan secara turun-temurun.
“Kami tidak perlu uang banyak. Kami hanya butuh kehidupan yang layak berdampingan dengan alam. Mendapatkan hasil dari alam saja sudah cukup untuk hidup kami,” ungkap Saudah.
Ia juga menegaskan tanah Beutong merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang, bukan dimanfaatkan demi keuntungan jangka pendek.
“Tanah ini untuk anak cucu kami, bukan untuk dijual demi kenikmatan sesaat para penguasa,” tegasnya.
Menurut Saudah, jika pemerintah tetap membuka jalan bagi investor untuk masuk ke Beutong Ateuh, masyarakat akan terus menyuarakan penolakan.
“Jika bupati mau memasukkan investor untuk mengeruk hasil bumi di Beutong, maka kami pastikan akan terus melawan mempertahankan tanah leluhur kami ini untuk masa depan anak cucu kami. Tanpa tambang kami juga bisa sejahtera,” katanya.
Bagi masyarakat Beutong Ateuh, nilai investasi sebesar apa pun dinilai tidak sebanding dengan fungsi hutan, sumber air, serta lingkungan yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga.(*)













