Pemko Lhokseumawe bagi Bendera Merah Putih dalam Rangka HUR RI ke-80

Wali Kota Lhokseumawe Dr Sayuti Abubakar SH MH membagikan Bendera Merah Putih kepada masyarakat, dalam rangka menyambut HU ke-80 Kemerdekaan RI dan peluncuran penggunaan Bahasa Aceh dalam pelayanan publik, di Lapangan Hiraq. Jumat 1 Agustus 2025. [Foto Dok: Pemko Lhokseumawe/rahasiaumum.com/*].

Lhokseumawe. RU – Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe menggelar kegiatan pembagian Bendera Merah Putih kepada masyarakat, yang dirangkaikan dengan peluncuran penggunaan Bahasa Aceh dalam pelayanan publik, Jumat, 1 Agustus 2025, di Lapangan Hiraq.

Seperti diberitakan rahasiaumum.com, Sabtu (02/08/2025), kegiatan ini menjadi bagian dari semangat menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pembagian bendera dilakukan secara simbolis oleh Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, SH, MH kepada siswa, perwakilan warga dan tokoh masyarakat.

Seluruh rangkaian upacara pada hari itu tampak berbeda karena instruksi hormat bendera merah putih, serta laporan pemimpin upacara semuanya disampaikan dalam Bahasa Aceh.

Wali Kota Lhokseumawe Dr Sayuti Abubakar SH MH pada acara itu menyampaikan bahwa pembagian Bendera Merah Putih bukan sekadar seremonial, tetapi bentuk nyata ajakan kepada masyarakat untuk mengibarkan bendera Merah Putih sebagai wujud cinta tanah air dan penguatan semangat kebangsaan.

“Bendera Merah Putih adalah simbol perjuangan dan persatuan. Dengan membagikan bendera ini, kita ingin memastikan bahwa seluruh pelosok Kota Lhokseumawe turut serta dalam semarak kemerdekaan,” sebutnya.

Pada kesempatan yang sama, ia juga secara resmi meluncurkan program Berbahasa Aceh sebagai bahasa pendamping dalam layanan informasi di ruang-ruang publik pemerintahan, baik secara lisan maupun tulisan.

“Orang Aceh, khususnya warga Lhokseumawe dan para ASN, harus mampu berbahasa Aceh. Jika komunikasi dalam bahasa Aceh tidak lagi dilakukan, maka kita akan kehilangan peradaban dan identitas keacehan yang menjadi jati diri kita bersama,” tambahnya.

Menurut Sayuti, mayoritas orang tua zaman sekarang tidak lagi mengajarkan bahasa Aceh kepada anaknya, terkesan malu jika bicara bahasa aceh, ini hal yang tidak baik karena ada penelitian yang menyatakan bahwa bahasa Aceh akan hilang dalam 20 tahun kedepan, tinggal satu generasi lagi.

”Maka dari itu kita harus ajarkan, bertutur kata dan biasakan bahasa aceh di kantor, di sekolah dan di lingkungan masyarakat” seru Sayuti dalam bahasa Aceh.(*)

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...