Kualasimpang. RU – Sebelas bulan setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025, sebagian warga masih berjuang memulihkan ekonomi.
Salah satunya Nur Hamidah, yang kehilangan usaha kantin dan kini bertahan hidup dengan berjualan telur ayam serta es lilin buatan sendiri.
Perempuan yang akrab disapa Kak Nong itu sebelumnya mengelola kantin di belakang Kantor Dinas Sosial Aceh Tamiang.
Namun, banjir bandang menghancurkan kantin beserta seluruh peralatan usahanya.
“Hanya itu jalan usaha saya sebagai penopang perekonomian saya. Sekarang kondisi usaha saya sudah terpuruk,” ujar Nur Hamidah kepada rahasiaumum.com, Selasa (20/10/2026).
Di tengah keterbatasan modal, Kak Nong mendapat bantuan dari seorang teman yang memberinya kesempatan menjual telur ayam ras tanpa harus mengeluarkan modal awal.
Ia juga dipinjami satu unit becak untuk membawa dagangannya berkeliling.
“Saking baiknya orang itu, bahkan saya dipinjami satu unit besak untuk menjajakan telur itu,” imbuhnya.
Setelah berkeliling, Kak Nong biasanya berjualan di bahu jalan Medan-Banda Aceh, tepat di depan Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Aceh Tamiang.
Ia menjual telur secara eceran dengan harga mengikuti pasaran.
“Untuk saat ini harga telur Rp 49.000 per papan dengan isi 30 butir,” jelasnya.
“Saya jualan telur ini tanpa memakai modal usaha, berkat bantuan teman saya inilah saya dapat mengais rejeki yang jumlahnya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup,” imbuhnya.
Pembayaran kepada pemasok telur dilakukan setiap dua atau tiga hari sekali.
Untuk menambah penghasilan, Kak Nong juga membuat dan menjual es lilin mambo susu seharga Rp 2.000 per batang.
“Seperti ini, saya harus jual Es lilin Mambo susu dengan harga Rp 2.000 per batang. Es Mambo ini hasil buatan saya sendiri,” terangnya.
Setiap Jumat, ia memberikan bonus kepada pembeli es mambo. Dengan harga Rp 5.000, pembeli bisa mendapatkan tiga batang es.
Meski telah berupaya mencari penghasilan dari dua jenis dagangan, Kak Nong masih berharap dapat kembali membuka kantin seperti sebelum banjir. Namun, keterbatasan modal menjadi kendala utama.
“Ingin saya berjualan di kantin seperti dulu, tapi apalah daya kalau modal saja tidak punya,” ungkapnya.
Kak Nong berharap pemerintah dapat membantu memulihkan usahanya.
Ia mengaku pernah mendaftarkan diri sebagai pengusul bantuan modal usaha melalui layanan daring yang dibuka Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kabupaten Aceh Tamiang.(S04)













