Bireuen. RU – Pemerintah Kabupaten Bireuen memastikan Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2026 dibangun di lahan baru, bukan di atas sawah yang sudah ada.
Penegasan ini disampaikan untuk menepis tudingan yang beredar terkait pelaksanaan program tersebut.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Mulyadi, mengatakan seluruh lokasi program telah melalui kajian lingkungan dan wajib berada di luar Lahan Baku Sawah (LBS).
“Sawah yang dicetak pemerintah harus berada di luar Lahan Baku Sawah. Jika tidak, lahan tersebut tidak akan diakui sebagai sawah. Karena itu, tidak ada cerita pemerintah mencetak sawah di atas sawah yang sudah ada,” kata Mulyadi seperti diberitakan rahasiaumum.com, Selasa (28/07/2026).
Tahun ini, Kementerian Pertanian merealisasikan Program Cetak Sawah Rakyat seluas 140 hektare di lima kecamatan, yakni Simpang Mamplam, Pandrah, Juli, Peusangan, dan Makmur.
Program tersebut bertujuan memperluas lahan pertanian produktif untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Mulyadi menjelaskan, sebelumnya Pemerintah Kabupaten Bireuen mengusulkan lebih dari 1.000 hektare lahan. Namun, sebagian besar usulan belum dapat direalisasikan karena tidak memiliki sumber air yang memadai.
Menurut dia, penentuan lokasi kini menggunakan teknologi pemetaan digital dan citra satelit sehingga setiap usulan dapat diverifikasi secara akurat.
Apabila terdapat lahan yang masuk kategori sawah eksisting, pemerintah pusat akan membatalkan usulan tersebut karena tidak sesuai dengan petunjuk teknis.
Ia juga membantah tudingan adanya penyimpangan dalam pelaksanaan program.
Menurutnya, pekerjaan fisik dilaksanakan melalui mekanisme tender oleh Balai LPI Sumatera Utara, sedangkan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen hanya bertugas sebagai tenaga teknis di lapangan.
“Karena itu, tidak mungkin terjadi korupsi dalam pelaksanaannya seperti yang selama ini ditudingkan kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan Bireuen,” ujarnya.
Pekerjaan fisik saat ini telah dimulai dan ditargetkan rampung pada September 2026.
Mulyadi berharap masyarakat mendukung program tersebut karena dinilai menjadi investasi jangka panjang bagi sektor pertanian.
“Program Cetak Sawah Rakyat merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan pertanian. Ketika lahan bertambah, produksi pangan meningkat; ketika produksi meningkat, kesejahteraan petani ikut tumbuh; dan ketika petani sejahtera, daerah menjadi lebih kuat dalam menjaga ketahanan pangan,” kata Mulyadi.(*)













