Aceh Besar. RU – Krisis air bersih mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Besar seiring puncak musim kemarau.
Di Kecamatan Pekan Bada, warga harus menunggu hingga dini hari untuk mendapatkan aliran air, sementara lahan pertanian tadah hujan mulai mengering akibat berkurangnya pasokan air.
Salah seorang warga Pekan Bada, Zakiah mengatakan distribusi air dari PDAM Tirta Montala tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, debit Mata Ie sebagai sumber air untuk Kecamatan Darul Imarah dan Pekan Bada terus menurun selama musim kemarau.
“Air Bersih yang di salurkan oleh PDAM Tirta Montala sudah tidak mencukupi, sehingga warga Pekan Bada harus menunggu air dari pukul 00.00 dinihari sampai pukul 05.00 subuh itu pun tidak mencukupi, karena air yang masuk tidak sempurna,” katanya seperti diberitakan rahasiaumum.com, Selasa (28/07/2026).
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Besar bersama PDAM Tirta Montala segera mengambil langkah darurat, termasuk membangun sumur bor di sejumlah titik agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Selain memicu krisis air bersih, kemarau juga menyebabkan ribuan hektare sawah tadah hujan mengalami kekeringan.
Di sejumlah lokasi, tanah mulai retak sehingga mengganggu aktivitas bercocok tanam.
Seorang petani yang Namanya tidak mau disebut, mengatakan kondisi tersebut hampir selalu terjadi setiap musim kemarau.
“Kekeringan sawah di musim kemarau ini bukan sekali ini saja sudah sedari dulu, namanya tadah hujan,” ucapnya.
Ia berharap pemerintah menghadirkan solusi yang lebih permanen agar persoalan kekeringan tidak terus berulang.(*)













