Suami Wafat di Laut, Nurlaila Bersama Tiga Anak Hadapi Ketidakpastian Hidup

Nurlaila (30) dan anak-anaknya di Dusun Alue Badeuk, Gampong Cot Mane, Kecamatan Jeumpa, Abdya. Selasa 14 April 2026. [Foto Dok : rahasiaumum.com/T018]

Blangpidie. RU – Nurlaila menjalani hari-hari penuh ketidakpastian di rumah papan sederhana di Dusun Alue Badeuk, Gampong Cot Mane, Kecamatan Jeumpa.

Ia kini menjadi satu-satunya penopang bagi tiga anak setelah suaminya, Yusman, meninggal saat melaut.

Bayi berusia tiga bulan menjadi perhatian utama setiap hari, sementara dua anak lainnya membutuhkan dukungan agar tetap dapat bersekolah dengan layak.

Perubahan besar terjadi setelah kepergian Yusman yang wafat secara mendadak.

Nurlaila mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi tanpa tanda sebelumnya.

“Ia meninggal tiba-tiba di laut, tanpa sakit sebelumnya,” kata Nurlaila, Selasa (14/04/2026).

Sejak itu, kebutuhan keluarga sepenuhnya bergantung pada upaya Nurlaila, yang belum memiliki pekerjaan tetap maupun penghasilan rutin.

Untuk makan sehari-hari, ia harus membeli beras karena tidak memiliki lahan maupun sumber pendapatan lain.

Kondisi tempat tinggal pun memprihatinkan.

Rumah beratap seng tersebut memiliki lantai semen kasar dan dinding papan yang mulai rapuh.

Bangunan itu juga berdiri di atas tanah milik orang tua, bukan aset pribadi.

Dalam situasi tersebut, ia berharap memperoleh pekerjaan yang dapat memberikan kepastian ekonomi.

“Saya berharap ada pekerjaan tetap ke depan, supaya bisa menafkahi anak-anak,” ujarnya lirih.

Kerabat dekatnya, Ikramah (25), menyebut keterbatasan ekonomi sudah dialami keluarga itu sebelum kejadian.

Namun, kondisi semakin memburuk setelah Yusman meninggal.

“Harapan kami, anak-anak ini tetap bisa sekolah dengan layak,” kata Ikramah.

Ia juga berharap pemerintah daerah memberikan perhatian, terutama terkait kelangsungan pendidikan anak-anak serta peluang kerja bagi Nurlaila setelah kondisi bayinya memungkinkan.

“Mungkin salah satu pekerjaan yang memungkinkan sebagai tenaga pencuci omprengan di dapur program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.

Sementara itu, Panglima Laot Aceh Barat Daya, T. Indra Kusuma atau Acek Muntir, menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi komunitas nelayan agar memperkuat solidaritas.

“Ke depan, nelayan harus lebih kompak. Perlu ada iuran bersama untuk membantu keluarga korban,” kata Acek.

Ia juga mengimbau para nelayan untuk terdaftar dalam BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan terhadap risiko kerja di laut.

Berdasarkan kronologi, peristiwa itu terjadi pada Kamis, 9 April 2026, sekitar pukul 17.00 WIB.

Yusman berangkat melaut seperti biasa, tetapi tidak kembali.

Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan berubah menjadi akhir perjalanan hidupnya.(T018)

Open House Idul Adha Istri Gubernur Aceh di Pedalaman Aceh Barat

Meulaboh. RU – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Kamis...

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...