Wacana War Ticket Haji Tuai Pro-Kontra

Dahnil
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak saat memberi penjelasan soal wacana war ticket di Asrama Haji Cipondoh, Tangerang, Jumat (10/04/2026). (Foto: Tribunnews.com)

Jakarta. RU – Wacana perang tiket (war ticket) yang diwacanakan Kementerian Haji dan Umrah menuai beragam pro dan kontra di masyarakat.

Pihak Kementerian Haji dan Umrah menyebut, skema ini akan memperpendek masa tunggu jemaah, namun biaya keberangkatan haji bisa mencapai Rp200 juta tanpa subsidi.

Wacana ini pun langsung menuai pro-kontra di masyarakat, karena skema ini dinilai akan menyulitkan mereka yang berada di desa atau yang belum melek teknologi digital.

Selain itu, masyarakat juga mempertanyakan nasib calon jamaah haji yang telah menunggu puluhan tahun serta potensi percaloan haji. 

Sementara, bagi pihak yang mendukung, beranggapan bahwa war ticket dapat mengurangi antrean haji, terutama bagi mereka yang sudah memasuki usia lanjut agar bisa segera berangkat.

Selain itu, war ticket ini dinilai sebagai penerapan istithaah atau kemampuan seseorang dalam berhaji yang sesungguhnya, baik dari sisi fisik, mental, maupun keuangan.

Terkait pro-kontra ini, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan bahwa war ticket haji atau sistem pembelian tiket langsung/perebutan tiket masih sebatas wacana.

“(War ticket) itu bukan kebijakan tahun ini, jadi jangan salah. Itu bukan kebijakan tahun ini, itu baru wacana kita,” ujar Dahnil saat menutup Rakernas Kementerian Haji dan Umroh di Asrama Haji Cipondoh, Tangerang, Jumat (10/04/2026).

Dahnil mengatakan istilah war ticket ini muncul sebagai rumusan transformasi perhajian agar pemerintah dapat memperpendek masa tunggu haji yang saat ini rata-rata 26,4 tahun.

Namun, pemerintah masih mencari formulasi agar kebijakan ini dapat diterapkan tanpa harus mengorbankancalon jamaah haji yang sudah mendaftar sebelumnya.

“Ini bukan kebijakan, ini adalah upaya yang sedang kita cari untuk melakukan transformasi perhajian kita supaya kita bisa memperpendek antrean bahkan meniadakan antrean,” ujar Dahnil.

Menurutnya, wacana ini masih dalam tahap kajian awal dan belum benar-benar dibahas secara intens oleh pemerintah.(TH05/Republika)

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...

Rasa Haru di Balik Amanah: Jejak Pengabdian Khalidin Umar Barat di Tanah Suci

Subulussalam. RU – Ada momen yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan kata-kata ketika nama Khalidin...