73 Negara Dukung Inisiatif Indonesia soal Keamanan Pasukan UNIFIL

Wakil Indonesia di PBB
Wakil RI untuk PBB memberikan suara dalam stakeout yang digelar di Markas Besar PBB, New York. (Foto: Dok Kemlu)

Jakarta. RU – Indonesia menginisiasi Joint Statement on the Safety and Security of Peacekeepers, sebagai respons atas memburuknya situasi keamanan di Lebanon yang berdampak pada pasukan penjaga perdamaian.

Pernyataan bersama tersebut mendapat dukungan luas dari negara-negara kontributor pasukan United Nations Interim Force in Lebanon serta sejumlah negara lain.

Saat ini, tercatat sebanyak 73 negara dan observer Perserikatan Bangsa-Bangsa telah bergabung.

Pernyataan itu dibacakan oleh Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, dalam media stakeout yang digelar bersama Indonesia dan Prancis di Markas Besar PBB, New York, yang dihadiri perwakilan berbagai negara, termasuk Inggris, Rusia, Tiongkok, Pakistan, Bahrain, Spanyol, dan Malaysia.

Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari komitmen Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, untuk mengambil langkah tegas menyusul serangkaian serangan sejak akhir Maret 2026.

Serangan tersebut mengakibatkan gugurnya tiga personel penjaga perdamaian Indonesia serta melukai sejumlah personel dari beberapa negara, antara lain Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia.

Kementerian Luar Negeri RI juga terus mendorong Dewan Keamanan PBB, agar melanjutkan penyelidikan menyeluruh terhadap seluruh insiden yang melibatkan pasukan penjaga perdamaian.

Selain itu, negara-negara kontributor menyerukan penghentian kekerasan di Lebanon, deeskalasi ketegangan, serta kembalinya seluruh pihak ke meja perundingan untuk mencapai solusi damai.

Dalam pernyataan bersama tersebut, negara-negara kontributor UNIFIL menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi ketegangan di Lebanon sejak 2 Maret 2026 yang berdampak langsung pada keselamatan personel penjaga perdamaian.

Mereka juga mengecam keras berlanjutnya serangan terhadap UNIFIL, termasuk tindakan agresif terhadap personel dan pimpinan misi yang dinilai tidak dapat dibenarkan.

“Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar. Kami mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggunakan seluruh instrumen yang tersedia guna memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian di tengah situasi yang semakin berbahaya,” tegas Umar, dikutip Sabtu (11/04/2026).(TH05/Okezone)

Kisah Haru Jemaah Haji Subulussalam, Dilepas dan Disambut Wali Kota di Tanah Suci

MAKKAH – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti perjalanan jemaah haji asal Kota Subulussalam yang...

Menjaga Rasa Tradisi dari Dapur Rumahan Lamlhom

Aceh Besar. RU – Aroma gula merah dan santan masih kerap menguar dari dapur-dapur rumahan...

Dari Aceh Tamiang, Para Calon Pemimpin Belajar Tentang Empati

Di tengah pemulihan pascabencana, Aceh Tamiang tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak. Daerah ini...

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...

Rasa Haru di Balik Amanah: Jejak Pengabdian Khalidin Umar Barat di Tanah Suci

Subulussalam. RU – Ada momen yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan kata-kata ketika nama Khalidin...