Bireuen. RU – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh telah mengamankan sampel makanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan keracunan spesifik baru-baru ini di Kabupaten Bireuen.
Kepala BBPOM Banda Aceh, Riyanto menyebutkan, saat ini tim laboratorium BBPOM Aceh tengah melakukan pengujian mendalam untuk memastikan penyebab pastinya secara saintifik.
“Sampelnya sudah masuk ke Balai Besar POM. Waktu pemeriksaannya sekitar empat sampai lima hari, setelah itu hasilnya akan kami sampaikan,” katanya Riyanto dikutip Selasa (03/03/2026).
Ia menyebutkan, mayoritas insiden keracunan dalam program MBG bersumber dari kontaminasi bakteri akibat pengabaian Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh pengelola.
Riyanto, mengungkapkan bahwa kesalahan fatal umumnya terletak pada manajemen waktu dan higienitas selama rantai produksi, mulai dari dapur hingga ke tangan konsumen, yang memicu pertumbuhan mikroorganisme berbahaya.
Menurutnya, faktor kimia jarang menjadi penyebab utama dalam kasus-kasus yang ada. Masalah justru sering muncul karena ketidakteraturan jadwal memasak dan distribusi.
Ia menyoroti bagaimana jeda waktu yang terlalu lama antara proses pengolahan dan konsumsi menjadi celah bagi bakteri untuk berkembang biak secara masif.
“Secara umum, dugaan keracunan itu lebih banyak disebabkan oleh bakteri, bukan faktor kimia. Biasanya karena SOP tidak dijalankan dengan baik, mulai dari jam memasak, jam pengemasan, jam konsumsi, sampai cara penyimpanan dan distribusi,” ujarnya.
Menurutnya, makanan yang diolah terlalu dini, seperti dimasak pada malam hari untuk dikonsumsi siang hari berikutnya, memiliki risiko tinggi terkontaminasi bakteri jika tidak dikelola dengan standar higienitas yang ketat.
Sebagai langkah preventif ke depan, BBPOM Aceh mendesak adanya evaluasi total terhadap seluruh penyedia jasa pangan dalam program MBG.
Riyanto menegaskan bahwa konsistensi dalam menjalankan aturan yang sudah ada jauh lebih penting daripada sekadar memiliki dokumen SOP.
Pelatihan ulang bagi para pengolah pangan dianggap mendesak untuk menjaga keamanan konsumsi bagi anak-anak sebagai kelompok rentan.
“SOP sebenarnya sudah jelas. Tinggal konsistensi pelaksanaan. Perlu pelatihan ulang, pembacaan SOP kembali, dan penguatan cara penanganan pangan yang baik, mulai dari pengolahan, pengemasan, sampai distribusi,” pungkas Riyanto.(TH05)














