Geulayang Tunang, Tradisi Main Layang di Aceh

GeulayangTunang
Seorang pemuda menaikkan Geulayang Kleung dalam tradisi lomba layang (Geulayang Tunang) di kawasan Lamnyong, Banda Aceh. (Foto: ANTARA)

Banda Aceh. RU – Bermain permainan tradisional selalu mengasyikkan. Apalagi jika permainan tersebut adalah tradisi turun-temurun.

Di Aceh, ada lomba main layang-layang bernama Geulayang Tunang, yang biasanya dilakukan setelah panen.

Bagi traveler yang masa kecilnya dilewati dengan beragam permainan tradisional, tentu tidak asing dengan layang-layang.

Ya, mainan yang terbuat dari bambu dan kertas minyak ini begitu melekat diingatan.

Di Aceh ada layangan khusus berbentuk mirip burung elang dengan sayap lebar, yang dinamakan Geulayang Kleung.

Aktivitas memainkan geulayang sering kali menjadi ajang kompetisi (lomba/tunang) yang memperebutkan hadiah.

Jika kebetulan Anda berwisata ke Aceh sekitar bulan Oktober saat petani selesai panen padi, akan terlihat kerumunan pemuda dan remaja sambil menenteng layang besar dengan warna dan motif unik.

Puluhan pemuda akan membawa layangannya untuk dilombakan, karena hadiah yang diperebutkan pun biasanya tak mengecewakan.

Yang menjadi pemenang adalah layangan yang posisinya paling tinggi dan tegak terbangnya.

Bentuk unik Geulayang Kleung

Geulayang Tunang atau Geulayang Kleung atau geulayang sayeup atau geulayang buleun merupakan sebutan masyarakat Aceh untuk layangan yang diperlombakan dalam Geulayang Tunang.

Setiap daerah di Indonesia memiliki sebutan sendiri untuk permainan ini, tapi pada dasarnya tetap sama.

Begitupun di wilayah Asia Tenggara, permainan layang-layang adalah tradisi tua dalam masyarakat adat nusantara yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

Asal usul permainan layang di dunia

Catatan pertama yang menyebutkan permainan layang-layang adalah dokumen dari Cina sekitar 2500 Sebelum Masehi.

Penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21 yang memberikan kesan orang bermain layang-layang menimbulkan spekulasi mengenai tradisi yang berumur lebih dari itu di kawasan Nusantara.

Diduga terjadi perkembangan yang saling bebas antara tradisi di Cina dan di Nusantara karena di Nusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan.

Sementara di Aceh, tradisi bermain layangan (geulayang tunang) tercatat dalam kitab Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) ditulis abad ke-17, yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti seorang pembesar kerajaan.

Buku-buku/kitab yang menulis tentang sejarah Aceh ini masih bisa ditemukan di museum dan beberapa pustaka tradisional yang masih menyimpan catatan kuno di Aceh, yang kini banyak dikunjungi wisatawan dan peneliti.(TH05)

Ambulans Baru, Harapan Baru Aceh Tamiang

Kualasimpang. RU – Pascabanjir besar yang sempat melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, secercah harapan kembali mengalir...

Rasa Haru di Balik Amanah: Jejak Pengabdian Khalidin Umar Barat di Tanah Suci

Subulussalam. RU – Ada momen yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan kata-kata ketika nama Khalidin...

Dari Subulussalam ke Makkah, Kiprah Khalidin Melayani Jemaah

Makkah. RU – Suatu anugerah besar kembali diraih Khalidin Umar Barat salah satu putra terbaik...

Huntara Kementrian PU–PT WIKA, Hunian Asri Penyembuh Duka Penyitas

Kualasimpang. RU – Bagi warga Kabupaten Aceh Tamiang yang terdampak banjir bandang, Hunian sementara (Huntara)...

Ketika MoU Helsinki Kembali Disuarakan di Tengah Revisi UUPA

Banda Aceh. RU – Suasana Anjong Mon Mata di Kompleks Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh,...