Bupati Aceh Tenggara Kecewa, Enam Eskavator Bantuan Pascabanjir Tak Bisa Digunakan

Tampak Bupati Aceh Tenggara H. Salim Fakhry bersama sejumlah unsur Pemkab saat meninjau lokasi terdampak banjir. Minggu 25 Oktober 2026 [Dok. rahasiaumum.com/AFW11]

Kutacane. RU – Penanganan pascabanjir di Kabupaten Aceh Tenggara terkendala setelah enam unit ekskavator bantuan ditemukan rusak dan tidak dapat dioperasikan.

Kondisi tersebut menghambat penanganan aliran Sungai Alas yang mengancam Jembatan Merah Putih di Desa Bacang Kubang.

Bupati Aceh Tenggara M Salim Fakhry menyampaikan kekecewaannya saat meninjau sejumlah lokasi terdampak banjir bersama Kapolres Aceh Tenggara dan pejabat terkait, Minggu (25/10/2026).

Enam alat berat yang rusak terdiri dari empat unit ekskavator PC 200 dan dua unit jenis long arm. Menurut Salim, kondisi alat yang sudah tua dan tidak layak pakai menghambat percepatan pekerjaan.

“Enam alat eskavator rusak. Rinciannya, empat unit PC 200 dan dua unit long arm, semuanya rusak. Kita sangat kecewa terhadap vendor yang menyediakan alat,” kata Salim.

Ia meminta Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) pusat memperhatikan kelayakan alat berat yang disalurkan. Salim juga membandingkan kondisi peralatan di Aceh Tenggara dengan Kabupaten Gayo Lues.

“Kita memohon kepada PRR pusat untuk memperhatikan ini. Kenapa di Gayo Lues alatnya bagus-bagus, sementara untuk Agara alatnya sudah tua semua, sehingga penanganan tidak bisa kita atasi,” ujarnya.

Salah satu dampak kerusakan alat berat terlihat di Jembatan Merah Putih, Desa Bacang Kubang, yang dibangun TNI. Jembatan tersebut terancam roboh akibat derasnya arus Sungai Alas.

“Akibat alat rusak, tidak bisa kita bendung. Nampaknya dua atau tiga hari lagi jembatan akan roboh akibat ganasnya arus Sungai Alas di Desa Bacang Kubang,” kata Salim.

Dalam peninjauan tersebut, Salim dan Kapolres juga mendatangi tiga lokasi lainnya, mulai dari Kecamatan Lawe Bulan hingga kawasan Pajak Pagi.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Tenggara Sadli mengatakan, sebagian besar alat berat yang digunakan untuk penanganan pascabanjir tidak dalam kondisi layak pakai.

“Kebanyakan alat yang bekerja saat ini tidak layak pakai, sehingga mengganggu aktivitas. Kami berharap vendor segera mengevakuasi dan mengganti dengan alat yang layak agar progres pekerjaan bisa dipercepat,” ujar Sadli.

Sebelumnya, Satgas PRR pusat menyalurkan 18 unit alat berat dan delapan unit dump truck kepada Pemkab Aceh Tenggara pada Senin (19/10/2026). Bantuan tersebut ditujukan untuk mempercepat perbaikan infrastruktur terdampak banjir.

Pemerintah daerah berharap vendor segera mengganti enam ekskavator yang rusak agar pekerjaan penanganan sungai dapat dipercepat dan ancaman terhadap infrastruktur dapat diantisipasi.(AFW11)

Di Balik Batu Bata, Peluh Aisyah dan Parman Menyambung Hidup

Banda Aceh. RU – Gerimis membasahi tumpukan tanah liat dan batu bata di sebuah tempat...

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...