Warga Sangkalan Abdya Desak Dinkes Segera Cegah Penyebaran DBD

Ilustrasi. Minggu 25 Oktober 2026 [Dok. rahasiaumum.com/T08]

Blangpidie. RU – Warga Kemukiman Sangkalan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) segera melakukan langkah pencegahan menyusul dugaan sejumlah warga terjangkit demam berdarah dengue (DBD).

Masyarakat khawatir penyebaran penyakit tersebut meluas seiring meningkatnya populasi nyamuk di lingkungan permukiman.

Salah seorang warga, Nazar, meminta petugas kesehatan segera turun ke lapangan untuk melakukan pengasapan atau fogging, pemeriksaan jentik, dan sosialisasi kepada masyarakat.

“Kami minta Dinas Kesehatan jangan menunggu korban bertambah. Segera lakukan fogging, periksa jentik, dan sosialisasi ke rumah-rumah. Nyamuknya sudah banyak sekali,” ujarnya, Minggu (25/10/2026).

Menurut warga, pencegahan DBD perlu dilakukan secara terpadu melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), penerapan 3M Plus, pemeriksaan jentik, dan pembersihan lingkungan.

Kader juru pemantau jentik (Jumantik), perangkat gampong, serta puskesmas juga diharapkan terlibat dalam pemantauan dan edukasi masyarakat.

Kekhawatiran warga turut dipicu data RSUD Teungku Peukan yang mencatat 100 pasien DBD menjalani perawatan selama Juni–September 2026.

Jumlah pasien terdiri dari 10 orang pada Juni, 28 orang pada Juli, 36 orang pada Agustus, dan 26 orang pada September.

Direktur RSUD Teungku Peukan, dr. Ismail Muhammad, sebelumnya mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami gejala DBD, seperti demam tinggi mendadak hingga 40 derajat Celsius selama dua hingga tujuh hari, sakit kepala berat, nyeri di belakang mata, dan ruam kemerahan.

Ia juga mengingatkan bahwa masa kritis dapat terjadi ketika demam mulai turun, umumnya pada hari ketiga hingga ketujuh. Karena itu, kondisi pasien tetap perlu dipantau meskipun suhu tubuh mulai membaik.

Warga meminta Dinkes Abdya dan puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi di lokasi yang diduga menjadi pusat penularan.

Mereka juga mengusulkan agar fogging dilakukan berdasarkan hasil kajian, dengan sasaran radius 100 meter dari rumah pasien terkonfirmasi.

“Kami siap gotong royong bersihkan lingkungan, tapi kami juga butuh dukungan dari pemerintah. Ini soal nyawa,” kata warga lainnya.

Dinkes Abdya sebelumnya menegaskan bahwa fogging perlu disertai PSN rutin melalui penerapan 3M Plus dan tidak dijadikan satu-satunya upaya pencegahan DBD.(T08)

Di Balik Batu Bata, Peluh Aisyah dan Parman Menyambung Hidup

Banda Aceh. RU – Gerimis membasahi tumpukan tanah liat dan batu bata di sebuah tempat...

Ketegor atau Ketegukh, Warisan Pengetahuan Leluhur Melayu Tamiang untuk Sakit Perut Anak

Kualasimpang. RU – Ketika sakit perut tiba-tiba menyerang anak, sebagian masyarakat Melayu Tamiang masih memiliki...

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...