Kutacane. RU – Mahalnya harga dan sulitnya memperoleh pupuk bersubsidi menjadi keluhan petani padi dan jagung di Kabupaten Aceh Tenggara.
Kondisi tersebut dikhawatirkan meningkatkan biaya produksi dan berdampak terhadap hasil panen.
Keluhan itu disampaikan petani, Muhammad Raja, yang mengaku harus membeli pupuk urea dan NPK dengan harga sekitar Rp 150.000 per sak.
Bahkan, menurut dia, harga di sejumlah kios berkisar Rp 180.000 hingga Rp 200.000 per sak.
“Kami kesulitan mendapatkan pupuk subsidi. Kalaupun ada, harganya sudah mahal,” kata Muhammad Raja kepada rahasiaumum.com, Jumat (09/10/2026).
Menurut Raja, tingginya harga pupuk menambah beban petani karena pupuk merupakan kebutuhan utama dalam budidaya padi dan jagung.
Jika persoalan tersebut tidak segera diatasi, produksi pertanian di Aceh Tenggara dikhawatirkan menurun.
“Kalau pupuk sulit didapat dan harganya tinggi, tentu sangat membebani petani. Hasil panen juga dikhawatirkan ikut menurun,” ujarnya.
Raja meminta pemerintah dan aparat memperketat pengawasan distribusi pupuk bersubsidi untuk memastikan ketersediaan dan kesesuaian harga dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Ia juga meminta penelusuran distribusi dilakukan guna mengantisipasi dugaan penimbunan dan penyalahgunaan kuota pupuk.
“Pemerintah harus turun langsung melihat kondisi di lapangan. Jangan sampai pupuk subsidi justru sulit didapat petani,” katanya.
Menurut Raja, persoalan tersebut perlu segera ditangani karena sebagian besar masyarakat Aceh Tenggara menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian.
Kelangkaan dan mahalnya pupuk tidak hanya membebani petani, tetapi juga berpotensi mengganggu produksi pangan daerah.(AFW11)













