UGL Dampingi Petani Aceh Tenggara Terapkan Teknologi Ramah Lingkungan

Dosen UGL, Anuar Ramut, S.P., M.Si., saat mendampingi kelompok tani di desa Kute Tengah kecamatan Lawe Sigala-gala. Rabu 26 Agustus 2026 [Dok. rahasiaumum.com/AFW11]

Kutacane. RU – Upaya pemulihan lahan pertanian pascabanjir di Aceh Tenggara dilakukan dengan pendekatan ramah lingkungan.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gunung Leuser (UGL), Anuar Ramut, S.P., M.Si., mendampingi kelompok tani mengembangkan pestisida nabati dan biofertilizer Trichoderma untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) sekaligus memulihkan kondisi lahan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) tersebut berlangsung pada Rabu (26/08/2026), melibatkan Kelompok Tani Syariat di Desa Kuta Tengah, Kecamatan Lawe Sigala-gala, serta Leuser Group Agrofarm.

Anuar mengatakan program itu merupakan tindak lanjut penelitian yang dilakukannya setelah memperoleh hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) tingkat nasional pada 2024 dan 2025.

“Hasil dan pengalaman dari riset tersebut saya hilirkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat,” kata Anuar.

Dalam kegiatan tersebut, Anuar menjadi ketua tim PKM bersama Deden Sumoharjo, S.P., M.P., dan Habibul Akram, S.Pd., M.Si.

Ia menilai hasil penelitian perguruan tinggi semestinya tidak hanya berhenti di lingkungan akademik.

Temuan tersebut perlu diterapkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk petani.

Selain mendampingi petani, Anuar mendorong pembentukan lembaga khusus yang mewadahi penelitian agroteknologi di Aceh Tenggara.

Lembaga tersebut, menurut dia, juga perlu memiliki skema hibah penelitian lokal.

Ia menjelaskan, riset berbasis daerah penting karena karakteristik agroekosistem setiap wilayah berbeda.

Teknologi pertanian yang berhasil diterapkan di satu daerah belum tentu sesuai untuk wilayah lainnya.

“Kebutuhan dan teknologi budidaya kakao di Sulawesi belum tentu sama dengan kakao di Aceh Tenggara. Begitu juga pada padi dan komoditas lainnya,” ujarnya.

Anuar berharap penelitian yang dilakukan di Aceh Tenggara dapat menghasilkan inovasi pertanian yang sesuai dengan karakteristik lahan sekaligus menjawab kebutuhan petani setempat.(AFW11)

Merah Putih Berkibar di Pulo Nasi, Merayakan Indonesia dari Pulau Terluar

Pagi di Pulo Nasi terasa berbeda. Merah Putih berkibar di berbagai sudut, berpadu dengan umbul-umbul...

Saat Jadwal Kapal Membatasi Langkah Wisatawan ke Pulo Aceh

“Pulo Aceh yang Menunggu Kapal, Ketika Pesona Wisata Terhalang Akses Transportasi“ ACEH BESAR — Hamparan...

Nipah Atsiri dan Mimpi Kebangkitan Nilam Pulau Aceh

“Menghidupkan Kembali Nilam Pulau Aceh, Dari Sejarah Rempah Menuju Harapan Ekonomi Baru“ PULAU ACEH –...

UPAH YANG TERTAHAN DI TANAH HUNTARA

PULUHAN pekerja pada proyek pembangunan Huntara 1 di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang dan Huntara...

SAAT PENYINTAS MEMBANGUN HUNTARA, HAK MEREKA MASIH MENUNGGU

DI TENGAH upaya pemulihan pascabanjir ekologis yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025, ratusan unit...